Buruh Tani Terancam Kehilangan Pekerjaan

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Lahan pertanian di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur saat ini semakin menyempit akibat adanya mega proyek Lapangan Sukowati, Blok Tuban yang di operatori Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ).

Kondisi itu menjadikan warga di Desa Ngampel terancam kehilangan pekerjaan. Sebab mayoritas mereka  bekerja sebagai buruh tani.

“Sekarang lahannya semakin menyempit,” kata Wartinah, (35), sambil menutup lahan dengan plastik agar tidak tumbuh gulma kepada suarabanyuurip, Rabu (9/4/2014).

Dia mengatakan, lahan pertanian di desanya tidak hanya habis untuk kebutuhan proyek migas tetapi juga  perumahan elite yang akan dibangun untuk menunjang kegiatan industri.  “Saya bingung, kalau lahan habis untuk pembangunan mau mburuh (bekerja) dimana?” kata ibu tiga anak itu.

Wartinah berharap, ada bantuan modal untuk membuka usaha jika pekerjaannya sebagai buruh tani terhenti. Karena suaminya selama ini hanya bekerja serabutan. Sehingga pekerjaan itulah yang membantunya menambah pemasukan sehari-hari.

“Biasanya satu hari Rp10.000-15.000, tergantung Mbak, penghasilannya tidak pasti,” ujarnya.

Baca Juga :   Proyek Blok Cepu Kembali Jalan

Sementara itu, Kepala Desa Ngampel, Pujianto, mengungkapkan, total lahan pertanian di wilayahnya seluas 80 hektar. Dari jumlah itu yang digunakan pengeboran migas di Pad B seluas 7 hektar, jalur pipa dari Mobil Cepu Limited (MCL) seluas 5 hektar, dan rencana perumahan seluas 20 hektar.

“Kurang lebih sekarang tinggal 40 hektar,” tandasnya.

Dia menyadari, semakin lama lahan pertanian akan habis karena kebutuhan pembangunan bagi desanya. Terlebih kaum perempuan yang memang sebagian besar buruh tani akan kehilangan pekerjaannya.

“Saya sudah berfikir ke arah situ, makanya saya membuat program pemberdayaan perempuan seperti membuat kripik tempe, krupuk waluh, menjahit dan sebagainya,” kata Pujianto.

Meskipun begitu, bukan berarti program yang dibinanya selama ini sukses. Kendala terbesar adalah pemasaran produk. “Menunggu pembangunan pasar desa, semoga bisa terwujud,” tegasnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *