SuaraBanyuurip.com -Â Ali Musthofa
Blora – Berkurangnya jatah pasokan pupuk bersubsidi di Kabupaten Blora, Jawa Tengah mulai dirasakan oleh para petani. Dimasa tanam kedua ini mereka mengaku banyak yang kesulitan mendapatkan pupuk.
Melihat kondisi itu, Ketua Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Blora, Bondan Sukarno mengatakan, pihaknya telah merespons adanya kelangkaan pupuk yang ada di Kabupaten Blora. Salah satu upayanya adalah dengan menemui sejumlah distributor pupuk.
Bondan membeberkan persoalan pupuk yang langka di wilayah itu, karena penebusan pupuk oleh distributor terlambat. â€Saat menebus pupuk, para distributor ini harus membayar tunai, sehingga agak telat proses pengirimannya,†kata Bondan.
Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Blora itu menjelaskan, kelangkaan pupuk tidak hanya karena proses pembayaran yang harus tunai. Faktor lainnya, karena jatah pupuk di Blora dikurangi.
â€Saya sudah cek di gudang pupuk milik PT Petrokimia, dan stok masih ada. Pupuk bersubsidi untuk Blora masih banyak, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan petani pada musim tanam saat ini,†jelasnya.
Namun demikian, dirinya mengakui jika ada distributor yang belum mengambil jatah pupuk. Sebab, mereka belum bisa membayar tunai. “Di lapangan, kami menemukan fakta seperti itu,†imbuh Bondan.
Kelangkaan pupuk itu, seperti dialami oleh Purwanto, petani asal Jepon. Dia katakan, masih kesulitan mendapat pupuk. Jika masih ada stok, harganya cukup tinggi. Misalnya, untuk pupuk Urea, jika harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp96 ribu, maka di pasaran dijual Rp 100 ribu per sak isi 50 kilogram.(ali)