SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Suyoto, menegaskan, bakal fokus pada tata kelola keuangan desa. Terutama di desa Ring 1 lapangan Migas baik itu di lapangan Banyuurip, Blok Cepu, Sukowati Blok Tuban, maupun Tiung Biru.
“Kami akan fokus pada administrasi desa saat ini, karena uang yang diterima desa jumlahnya cukup besar,” tandasnya usai pelantikan 83 Kades baru di Pendapa Malowopati, Bojonegoro, Rabu (16/4/2014).
Dia mengungkapkan, karena menerima uang yang banyak itulah perangkat desa harus diajari tata kelola keuangan, atau administrasi yang baik dan benar. Kalau soal komitmen atau moralitas itu bisa dilakukan pembinaan.
“Tapi yang jauh lebih penting adalah diajari masalah keuangan,” tegasnya.
Oleh sebab itu tahun ini hampir seluruh desa dilakukan pemeriksaan untuk assessment, Â bagaimana gambaran keuangan desa setelah dilakukan pemeriksaan tersebut. Sehingga dapat mengetahui seperti apa tata kelola keuangan yang selama ini dibuat oleh desa.
“Termasuk desa penghasil migas yang menerima ADD paling besar dari desa lainnya,” tegas Kang Yoto, sapaan akrabnya.
Pihaknya mengakui, Kades yang tersandung kasus korupsi adalah karena kurangnya pemahaman tata kelola keuangan desa. Bahkan, karena gaya hidup kepala desa yang berubah saat ini tidak bisa membedakan mana uang pribadi, dan mana uang desa.
Selain itu, adanya desakan budaya dan lingkungan. Contoh desakan budaya adalah banyak yang kaget menjadi kepala desa karena uang yang diterima sangat banyak. Sehingga maindset sebagai kepala desa berubah drastis. Biasanya makan di warung sekarang di restauran, biasanya naik sepeda motor sekarang naik mobil.
“Terkadang itu membuatnya tergoda untuk menggunakan uang yang bukan haknya,” imbuhnya.
Seringkali Kades susah membedakan mana uang negara, uang desa atau uang keluarga. Oleh sebab itu, pihaknya melarang uang desa dipergunakan untuk keperluan pribadi dengan alasan meminjam.
“Harusnya desa membuka koperasi simpan pinjam, jadi uangnya bisa disimpan atau dipinjamkan,†tandasnya. (rien)