Ingin Jadi Wartawan Tapi Tak Kesampaian

SuaraBanyuurip.comToto Martono

Lamongan – Harapan tak selalu sesuai kenyataan. Ungkapan itu sepertinya pas untuk menggambarkan perjalanan hidup Mohammad Ridwan, Pengawas Stasisun Pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) Plaosan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Pria kelahiran 1975 itu mengaku, awalnya bercita-cita sebagai wartawan. Impian tersebut sudah terpupuk sejak dia duduk dibangku SMP. Alasan Ridwan ingin menjadi wartawan cukup sederhana. Yakni terpesona setiap melihat wartawan saat liputan atau wawancara dengan pejabat di televisi.

“Karena bagi saya, wartawan itu profesi terhormat dan mulia,” kata Ridwan memulai kisah kepada suarabanyuurip.com di Ruang Kantor SPBU Plaosan, Minggu (20/4/2014).

Pada waktu masih duduk bangku SMP dirinya mengkau banyak mengenal wartawan cetak. Karena kebetulan orang tuanya mengelola warung makan di salah satu sudut Kota Lamongan yang banyak menjadi mangkal para wartawan cetak yang ngepos di Lamongan.

Sehingga cita-cita sebagai jurnalis pun kian mengebu-gebu. Namun semua itu dipendam karena usianya yang masih belia. Kemudian cita-cita itu Ridawan salurkan melalui hobinya menulis. Bakat itu terus diasahnya saat bersekolah di SMA Negeri Lamongan. Hasil tulisannya banyak dimuat di media sekolah.

Baca Juga :   Sriyati Bertahan di Pande Besi

Begitu lulus SMA, Ridwan berkeinginan melanjutkan kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS, sekarang berubah nama menjadi, Stikosa). Menurutnya, kala itu universitas ini satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan dirinya menjadi seorang wartawan.

“Namun orang tua keberatan dan tidak sanggup membiayai biaya awal pendaftaran,“ ujar Ridwan.

Pada tahun 1993, Ridwan harus menyiapkan biaya masuk AWS senilai Rp1,5 juta. Nilai itu  cukup besar bagi orang tuanya yang hanya menggantungkan hidup dari mengelola warung makan.

Sehingga dia gagal untuk masuk sekolah wartawan. Namun begitu dirinya mencoba untuk tidak frustasi.  Untuk menghilangkan kesedihan tersebut dia  iseng-iseng mendaftar di SPBU Plaosan.  

“Alhamdulillah diterima,” kenang Ridawan.

Pekerjaan sebagai operator SPBU pun dia lakoni hingga 10 tahun. Karena  kinerjanya yang cukup baik, Ridwan diangkat pemilik SPBU sebagai pengawas SPBU pada tahun 2008. Walau tidak sesuai dengan cita-citanya, lelaki yang  tinggal di Desa Pangkatrejo, Kecamatan Sugio, Lamongan, itu mengaku telah menikmati pekerjaannya sekarang.

“Yang saya sesalkan sejak era reformasi banyak bermunculan wartawan bodrex. Bukan mencari berita namun niatnya memeras. Kalau ada wartawan bodrex datang kesini tidak saya hiraukan. Bahkan saya ajak gelut (berkelahi),” tutur Ridwan.

Baca Juga :   Enny : Sebelum Pikun Saya Ingin Berbagi

Menurut Ridwan, wartawan Bodrex merusak citra wartawan. Karena profesi ini cukup berat, namun mulia yakni sebagai kontrol sosial dan penyebar informasi. ( tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *