SuaraBanyuurip.com – Ali Musthofa
Blora – Warga Dukuh Suruhan, Desa Cokrowati, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sebagian besar bekerja sebagai penambang galian C. Mereka tak pernah mempedulikan keselamatannya demi menyambung hidup.
Padahal bahaya yang ditimbulkan sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa mereka. Bahaya itu bisa muncul dikarenakan tanah yang digali  hingga menyerupai goa dengan kedalamannya  mencapai 30 meter dan lebar sekitar 20 meter, bisa runtuh sewaktu-waktu.
â€Mayoritas penduduk disini, mata pencariannya sebagai penggali galian C. Rata-tara mereka bisa bertahan hidup dari uang hasih menggali tanah, dan nantinya akan ada yang membelinya,†kata Marji (37), salah satu penggali galian C di Dukuh Suruhan.
Bapak dua anak itu  mengungkapkan, setiap 1 rit tanah urug dihargai kisaran  Rp100.000 s/d Rp250.000, tergantung isi muatan dalam truk.
â€Rata-rata hasil galian ini digunakan untuk membangun gorong-gorong jalan, dan banyak kegunaan lainnya,” ujar Nuki, salah satu sopir truk yang mengambil hasil galian tersebut yang mengaku dari  Desa Sulursari, Kabupaten Purwodadi.
Siswanto, penambang galian C yang lain mengungkapkan, lahan galian ini ini milik Sumarji warga Desa Cokrowati. Jadi, Â setiap ada yang membeli galian itu, harus memberikan kepada pemilik lahan senilai Rp 10.000 sebagai uang anti tengah untuk memperbolehkan mengambil galian C di lahannya.
Ketika ditanya akan bahaya yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu, Siswanto mengaku hanya bisa pasrah. Karena smua itu demi keluara untuk bisa menyambung hidup.
“Disini memang sudah pernah ada korban. Dan para pekerja waktu itu hanya berhenti selama satu minngu saat peristiwa itu, dan setelah itu mereka bekerja lagi seperti biasa,” ujar dia.(ali) Â