SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap tanggal 2 Mei selalu dijadikan refleksi pentingnya pendidikan bagi bangsa. Demikian halnya di sekitar proyek lapangan Migas Banyuurip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Kepala Sekolah Sekolah Menengah Atas (SMA) Islam Gayam, Fadillah, menilai, sejauh ini pihaknya belum merasakan adanya perhatian yang lebih di sektor pendidikan. Baik dari pemerintah maupun dari perusahaan Migas di sekitar Gayam.Â
“Belum maksimal, apalagi bagi sekolah yang statusnya swasta,” ucapnya kepada Suarabanyuurip.com Jumat (2/5/2014).
Menurut dia, meski berada di tengah kepungan industrialisasi proyek migas, persoalan klasik seperti tidak layaknya gaji tenaga pendidik, kurangnya sarana dan prasarana masih menjadi kendala untuk mengembangkan pendidikan agar lebih maju dari sebelumnya. Untuk gaji guru per satu bulan ada yang hanya menerima gaji Rp150 ribu. Sedangkan sarana, seperti laboratorium sekolah hingga saat ini belum ada.
“Guru dan fasilitas merupakan hal penting dari pendidikan,” imbuhnya.
Pihaknya tidak banyak berharap dengan adanya pilar pendidikan sebagai program sosial perusahaan di wilayah sekitar Gayam. Namun demikian, dia tidak menampik bahwasanya sejumlah bantuan pernah diterima.Â
“Pernah beberapa dari perusahaan memberikan bantuan, seperti komputer dan buku,” ucapnya.
Dalam refleksi Hardiknas tahun ini, pihaknya berharap, jika pendidikan masih membutuhkan perhatian yang lebih maksimal. Sebab, seiring perkembangan zaman dan teknologi ke depan sektor pendidikan tetap merupakan sektor penting.
“Terutama peningkatan fasilitas dan sarana, kalau guru lebih pada pengabdian,” tuturnya. (roz)