SuaraBanyuurip.com – Ali Musthofa
Blora – Desa Sumurboto, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah sudah dikenal dengan produk anyaman bambu. Hampir mayoritas warga di desa ini memproduksi  bakul, tampah, kecapi, anting dan macam-macam kerajinan dari bambu. Keahlian sudah dari turun temurun.
“Saya jual satu bakul atau dunak ini Rp7.500 – Rp8.000. Biasanya hanya penghasilannya pun tidak setiap hari, tiap kali ada yang jadi sudah ada yang mengambil dari pedagang,â€kata Sarmi, (42), salah satu pengrajin anyaman bambu Desa Sumurboto kepada suarabanyuurip.com, Selasa (13/5/2014).
Sarmi mengatakan, sebelumnya ia bekerja sebagai pencari rumput untuk hewan ternaknya. Sekarang ia bisa mempunyai pekerjaan sampingan membuat anyaman. “Untuk satu batang bambu yang besar, saya membeli dengan harga Rp15.000 dan biasanya bisa menjadi 10 buah anyaman bakul/dunak,†ujarnya.
Dalam satu minggu kebanyakan pengrajin bisa membuat sampai 10 bakul/dunak. Namun mereka tidak langsung memasarkan hasil kerajinannnya ke pasar. Karena biasanya ada pedagang yang mengambil karena sudah memesan terlebih dahulu.
“Anyaman yang sudah jadi ini, biasanya langsung ada yang mengambil. Karena sebelumnya ada pedagang yang pesan,â€ungkpnya.
Biasanya hasil anyaman itu dibeli pedagang dari daerah Jatirogo dan Pati, Jawa Tengah. “Saya bekerja membuat anyaman sudah lama sekitar 25 tahun. awalnya saya melihat orang tua membuat anyaman. Setelah saya perhatikan kemudian saya ikut mempratekkannya, dan kemudian bisa sampai sekarang sudah bisa mencari uang sendiri untuk kebutuhan sehari-hari,†tutur Sarmi, menjelaskan.
Sementara  Lasi, (57),  menambahkan, pekerjaan ini ia lakukan karena tidak ada pilihan lain selain menganyam. Satu anyaman diberi harga Rp 8.000.  Dari hasil itu sedikit demi sedikit ia kumpulkan untuk membeli bahan-bahan membuat anyaman dan juga untuk sedikit memenuhi kebutuhannya.
â€Ini saya lakukan karena tidak ada pilihan lain, dan keahlian pun juga sudah lama saya peroleh dari orang tua,â€imbuh Lasi (57) saat ditemui dirumahnya.(ali)