SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Dari total 97 perlintasan kereta api di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sejumlah 88 yang tidak berpalang pintu, meskipun jalur rel ganda telah selesai dibangun. Hal ini mengakibatkan kecelakaan lalu lintas di perlintasan kereta api yang tidak berpalang pintu semakin meningkat.
Kepala Dinas Perhubungan Bojonegoro, Iskandar, mengatakan, sarana dan prasarana seperti palang pintu di perlintasan kereta api bukan hanya tanggung jawab pemerintahan kabupaten saja, tapi juga PT Kereta Api Indonesia (KAI).
“Jumlah semua palang pintu perlintasan kereta api ada 97, dan baru sembilan yang ada palang pintunya,” kata Iskandar.
Iskandar menjelaskan, biaya untuk pembuatan palang pintu sangatlah mahal, butuh sekitar Rp300 juta untuk satu palang pintu kereta api. Sedangkan di Bojonegoro masih ada puluhan perlintasan kereta api yang belum berpalang.
“Kalau kami harus membuat palang pintu KA ya jelas tidak mampu, daripada dibuat untuk palang pintu KA lebih baik dananya untuk merealisasikan Ring Road,” tegasnya.
Saat disinggung mengenai bahaya bagi masyarakat melewati perlintasan yang tidak berpalang, Iskandar mengakui, memang kondisi tersebut sangat berbahaya. Akan tetapi, belum ada solusi sampai sekarang mengenai hal tersebut.
“Tidak mungkin juga kami menutup perlintasan kereta api yang tidak berpalang pintu, pasti akan menimbulkan masalah di masyarakat,” sergahnya.
Pihaknya berkilah, sudah mengajukan 25 palang pintu ke PT KAI, dan disebar ke wilayah Bojonegoro baik timur maupun barat lengkap dengan pos penjagaan beserta penjaganya. (rien)