SuaraBanyuurip.com – D Suko Nugroho
Bojonegoro – Satu lagi makanan khas Bojonegoro, Jawa Timur, yang dapat dikembangkan masyarakat di ladang migas Blok Cepu untuk menambah pendapatan mereka. Yakni gethuk pisang. Selain pembuatannya mudah, bahan bakunya tak sulit karena dapat dipenuhi dari lingkungan sekitar.
Untuk membuat gethuk pisang ini hanya diperlukan sebuah alat penggiling untuk menggiling pisang. Sedangkan bahan baku yang digunakan murni pisang, seperti pisang raja nangka, renda, saba awu, raja uter dan gablok. Pisang jenis ini banyak ditemui ditanah pekarangan warga.
Cara pembuatan gethuk pisang ini sangat mudah. Yakni pisang yang sudah matang dikupas lalu diberishkan, kemudian digiling dicampur dengan gula dan garam. Setelah itu hasil gilingan dikukus  selama delapan jam. Kemudian dibungkus menggunakan daun pisang yang sebelumnya digodhok dan dibentuk seperti lontong  untuk siap dijual.
Usaha itu saat ini ditekuni M. Abdul Manaf, warga Bubulan, Kecamatan Bubulan. Setiap harinya warga RT. 4, RW.1 itu bisa mendapat keuntungan bersih Rp150 ribu dari menjual gethuk pisang.
“Alhamdulillah, keuntungannya lumayan. Setiap satu potong gethuk untungnya Rp1000,†kata Manaf ditemui di stan Dinas Pertanian Bojonegoro saat mengikuti pameran pekan pelayanan publik di Lapangan Desa Bubulan, Selasa (13/5/2014). Â
Manaf mengaku, saban hari bisa memproduksi 150 sampai 200 buah gethuk pisang. Per potongnya gethuk pisang itu dijual seharga Rp2.500.
“Campurannya hanya gula dan garam. Tidak ada bahan pengawetnya. Jadi sangat baik dikonsumsi,†ujar bapak satu anak itu.
Hasil produksi gethuk pisang itu telah merambah pasar di dalam dan luar Bojonegoro seperti Semarang dan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. “Setiap hari bisa kirim 200 sampai 300 potong,†tegas Manaf. (suko)