SuaraBanyuurip.com – WinartoÂ
Bojonegoro – Tradisi nyadran atau manganan di sekitar lapangan migas Banyuurip, Blok Cepu, ternyata masih bertahan dan tetap lestari. Masyarakat masih melakukan ritual ditempat yang dikeramatkan seperti kuburan maupun sendang.
Di desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, misalnya. Setiap tahun pada  hari Jumat Pahing, warga di desa ring 1 Lapangan Migas, Blok Cepu, pasti menggelar tradisi nyadran. Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah  memberikan kehidupan.
“Hari ini kita bersama masyarakat mengadakan selametan di makam leluhur pendiri desa Gayam. Orang sini menyebutnya makam mbah Lurah,” kata Kepala Desa Gayam, Winto kepada suarabanyuurip.com, Jum’at (23/5/2014).
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat sejak pagi sudah memadati makam umum di Dusun Sumurpandan untuk melaksanakan ritual. Mereka membersihkan makam sanak familinya sambil menabur bunga sebagai persiapan acara nyadran.
Siangnya, usai Sholat Jumat, masyarakat kembali ke makam sambil membawa tumpeng. Ribuang tumpeng dikumpulkan menjadi satu dan setelah melakukan doa bersama yang dipimpin juru kunci makam, tumpeng tersebut dibagikan merata kepada warga yang ikut manganan.
Setelah selametan selesai, acara dilanjutkan paggelaran wayang krucil. Konon kesenian ini merupakan kesenangan danyang (penunggu)Sumurpandan. “Ini yang dilakukan leluhur kami. Maka kami tidak berani mengganti kesenian lain. Takut mbah Lurah marah dan menimbulkan  pageblug di desa kami,” ujar Jarwi, warga setempat.
Pagelaran wayang krucil, pada malam hari dipentaskan di rumah kepala desa sebagai hiburan warga. Sementara di Dusun Gayam, acara nyadran digelar di salah satu sendang yang terletak dipinggir kampung.
Adapun kesenian yang disuguhkan sang Danyang, berbeda dengan Dusun Sumurpandan. Di dusun Gayam leluhurnya senang wayang thegul.
Ritual tak hanya dilakukan di tempat keramat. Di rumah-rumah warga juga digelar selamatan termasuk di sumur-sumur penduduk. “Kalau di sumur kita menghormati Yang membuat sumber air. Semoga sumber air ini tidak akan habis meski musim kemarau,” ucap Jumiati.
Untuk selamaten di sumur penduduk, juga ada tradisi minum dawet bersama. Siapa yang ikut selametan diwajibkan minum dawet yang telah disiapkan. Konon, dawet sebagai simbol sumber air yang dingin dan melimpah untuk kehidupan warga desa Gayam.(win)