SuaraBanyuurip.com – Ali Musthofa
Blora – Ruwahan, bagi masyarakat jawa identik dengan tasyakuran kirim do’a kepada arwah leluhur atau sanak kerabat yang sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Kondisi itu tentu saja menjadikan kebutuhan bahan pokok makanan meningkat.
Kebutuhan yang paling menonjol adalah daging ayam kampung maupun potong. Meski dipastikan akan alami kenaikan harga, stok daging ayam di Blora, Jawa Tengah juga dipastikan aman.
Dari pantauan di Pasar Induk Blora, penjual daging sudah mulai memperkirakan dimana mereka mau kulakan ayam guna mengantisipasi melonjaknya peningkatan kebutuhan daging ayam.
Seperti disampaikan Sumaryati, penjual daging ayam asal Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Â sejak sepekan harga daging ayam potong mulai merangkak naik hingga Rp28 ribu per kilogram. Sebelumnya bekisar Rp.25 ribu per kilogram.
“Untuk daging ayam kampung, dari harga Rp 35 ribu per kilogram menjadi Rp 40 ribu per kilogram,” katanya.
Meski saat ini sudah alami kenaikan, Sumiyati belum bisa menjamin harga akan tetap hingga puncak tradisi ruwahan. “Harganya mulai berubah, kalau stoknya aman karena kami menerima pasokan cukup dari para peternak, bisa jadi harga saat ruwahan nanti berubah lagi,†ujarnya.
Sementara itu, Kasiyati, Warga Teleng, Kecamatan Blora, penjual kebutuhan bumbu dapur juga mengatakan sejumlah harga bumbu dapur juga mulai merangkak naik. Untuk harga cabai merah dan hijau hingga pekan ini masih stabil, yakni Rp6000 per kilogram. Sedangkan untuk cabai rawit mencapai Rp.10.000 per kilogram pada pekan ini.
 Sementara untuk harga bawang merah di pasar Blora, kata dia, mencapai Rp 20 ribu per kilogram, sedangkan bawang putih pada pekan ini mencapai Rp 12 ribu per kilogram. “Sedangkan untuk harga telur ayam merangkak naik hingga Rp 20ribu/kg,” sebutnya.
Tasyakuran Ruwahan merupakan adat istiadat yang sudah turun temurun. Seperti dikatakan  Watini, seorang ibu rumah tangga warga Desa Jepangrejo, Kecamatan Blora. Menurut dia, bancakan atau kondangan di bulan ruwah, merupakan tradisi warga masyarakat di lingkungannya yang sudah dilakukan dari tahun ke tahun.
“Tujuan utamanya biasanya adalah mengirim doa kepada arwah leluhur, selain itu juga menjalin rasa persatuan sesama warga dan pemeluk agama. Bagi yang masih mengikuti tradisi tersebut, kebiasaan ini dilakukan sebulan selama bulan ruwah, atau menjelang datangnya bulan puasa Ramadhan,†katanya.(ali)