SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Wabah penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yaitu Chikungunya, merebak di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam lima bulan terakhir ditemukan sebanyak 170 kasus Chikungunya di wilayah setempat.
Jumlah tersebut menujukkan tren menaik, karena pada periode sama di tahun sebelumnya angkanya masih sebanyak 137 kasus. Kasus ini penderitanya terserang demam tinggi hingga terjadi pembengkakan di dalam sekujur tubuhnya.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Bojonegoro, Dr Wheny Dyah, mengatakan, peralihan musim penghujan ke musim kemarau serta banyaknya genangan air menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti menjadi penyebab demam berdarah dan chikungunya.
“Demam berdarah dan chikungunya selalu muncul bersamaan, karena nyamuk penular virus sama yakni Aedes Aegypti,†ujarnya.
Oleh sebab itu, selain melakukan fogging warga juga disarankan untuk membersihkan lingkungan dari genangan air serta membersihkan sarang nyamuk lainnya.
Dia mencontohkan, salah satu pemukiman warga yang sudah dilakukan fogging selama dua kali dalam dua minggu terakhir adalah Desa Kauman, RT 11 RW 02, Kecamatan Kota Bojonegoro. Sebanyak 35 warga setempat menderita chikungunya dalam tempo sebulan terakhir.
“Kami terus terapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di masyarakat,†lanjutnya.
Pihaknya menambahkan, data yang masuk selama lima bulan terakhir ini penyakit Chikungunya sudah menyerang penduduk di delapan desa. Di Kecamatan Kota misalnya, penyakit ini menyerang Desa Kauman, Kelurahan Jetak, Kelurahan Sumbang, Kelurahan Ledok Wetan Dan Ledok Kulon.
Whenny menjelaskan, Chikungunya dibawa oleh nyamuk yang berkembang biak khususnya di daerah yang dekat dengan rawa atau genangan air. Gejala penderitanya berupa panas yang tinggi nyeri di persendian dan terlihat merah pada kulit. (rien)