Dukung Industri Migas dengan Seni Budaya

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Berkembangnya industrialisasi minyak dan gas bumi (migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, membuat banyak perubahan di masyarakat terutama sektor budaya. Salah satunya tergerusnya budaya lokal akibat datangannya pendatang dari luar daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Bambang Suharno mengatakan, dengan masuknya industri migas tentu masuk pula budaya asing yang dibawa oleh para pekerja migas. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus berupaya menjaga dan melestarikan budaya asli daerah.

“Selain itu, kita terus berupaya mengenalkan wisata budaya baik religi maupun kuliner asli Bojonegoro,” kata Bambang kepada suarabanyuurip.com, Kamis (5/6/2014).

Meskipun saat ini wisata alam di Bojonegoro belum dikenal masyarakat luas, akan tetapi masih ada wisata budaya khas Bojonegoro seperti gunungan, nyadran atau sedekah bumi, tayub, tari thengul dan lain sebagainya yang mulai dikenal.

“Caranya saat ada kunjungan dari luar kami suguhkan pertunjukan tarian tradisional Bojonegoroan, makanan khas Bojonegoro atau mengenalkan budaya lokal lainnya,” ujar Bambang, menerangkan.

Baca Juga :   Sendang Kalangan Tuban Menuju Destinasi Wisata Alam

Selain itu, juga mengenalkan wisata agro yang menjadi andalan ketika tamu-tamu negara datang berkunjung ke Bojonegoro. “Cara-cara itu juga sebagai salah satu pendukung adanya industri migas di Bojonegoro, tidak hanya kekayaan energi tetapi kekayaan lainya seperti hasil kebun dan kekayaan budaya kita tonjolkan,” pugkasnya. 

Sementara itu, menurut aktivis budaya dan wisata Bojonegoro, Himmatul Ulya, dengan datangannya para pekerja ekspatriat migas seharusnya menjadi ajang promosi wisata di Bojonegoro. 

“Karena kebanyakan orang luar negeri lebih suka wisata alam yang mana Bojonegoro memiliki itu,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan Ekowisata.

Dia mengungkapkan, banyak potensi wisata alam di Bojonegoro yang masih kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat. Seperti Gua Kik Kik, air terjun Krandonan, Sungai Purba, makam kuno atau Kuburan Wong Kalang, Wali Kidangan, dan masih banyak lagi.

“Harusnya pemkab menyediakan sarana dan fasilitas pendukungnya agar dapat mempromosikan wisata yang ada,” saran Lya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *