SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Memasuki musim kemarau para petani di Lamongan tidak bisa lagi mengharapkan irigasi dari air hujan. Untuk mengairi sawah satu-satunya jalan adalah memompa air sumur atau sungai dengan cara didesel.
Saat ini sebagian besar petani tengah menanam padi, rata-rata usia tanaman 1,5 bulan. Semula mereka mengira hujan akan terus turun karena saat awal bercocok tanam curah hujan masih relatif tinggi. Namun sejak tiga minggu terakhir hujan tidak pernah lagi turun.
“Waktu awal tanam masih sering turun hujan, Mas. Petani pada bercocok tanam karena mengira masih musim penghujan, tidak tahunya sekarang hujan tidak pernah turun lagi,“ ujar petani asal Desa Gumantuk, Kecamatan Maduran, Sugito, Sabtu (21/6/2014).
Untuk menyelamatkan tanaman padinya akhirnya Sugito dan petani lain di desanya memompa air dari sungai dengan cara didesel. Menurutnya untuk keperluan sekali mendesel air rata-rata dirinya membutuhkan 10-15 liter solar.
Para petani di Kecamatan Karanggeneng, Pucuk, Sugio, dan Kecamatan Sukodadi juga mulai menggunakan desel untuk mengairi lahan pertaniannya.
“Walau harus mengeluarkan biaya ekstra, mendesel air terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan tanaman, “ ucap petani asal Desa Bogoharjo, Pucuk, Warsimin.
Rata-rata dirinya harus menyediakan dana Rp120 ribu perminggu guna kebutuhan membeli solar. Warsimin dan para petani lainnya hanya mengharapkan saat petani lagi butuh-butuhnya banyak solar pihak SPBU tidak membatasi pembelian solar.
“Biasanya pas petani bareng-bareng beli solar, pihak SPBU sering tidak melayani dengan alasan stok solar terbatas,“ keluhnya lagi.
Seorang operator SPBU di Kecamatan Sukodadi membenarkan jika saat pembelian solar petani melonjak, pihak SPBU tidak bisa memenuhi pembelian solar.
“Kami hanya menjalankan aturan, Mas, tidak boleh melayani pembelian jirigen diatas 15 liter,“ ujar operator yang minta namanya tidak ditulis itu. (tok)