SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Blora- Dilihat dari sisi sosial dan ketegakerjaan, Pemdes Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah lebih memilih industri rokok dibanding dengan industri Migas. Â
Hal itu diungkapkan, Kepala Desa (Kades) Sumber, Zaki Bachroni, menyikapi adanya proyek Pengembangan Pipa Gas Jawa (PPGJ), area Gundih yang dioperatori Pertamina EP PPGJ di wilayahnya.
“Kalau misalkan memilih mungkin lebih baik ada industri pabrik rokok,” kata dia kepada Suarabanyuurip.com, Senin (23/6/2014).
Alasannya, menurut dia, industri migas merupakan industri padat teknologi. Dengan kata lain, tenaga manusia tidak lagi begitu dibutuhkan manakala gas atau minyak yang  sudah mulai diproduksi.Sementara, pada tahap pengerjaan konstruksinya memang dibutuhkan tenaga manusia.
“Kalau pun ada hanya bagian tertentu, selebihnya menggunakan mesin,” imbuhnya.Â
Lain halnya dengan industri rokok, Zaki menilai industri rokok merupakan industri padat karya. Tenaga manusia masih banyak dibutuhkan untuk memproduksi rokok. Sehingga bagi Pemdes, secara tanggung jawab adanya industri Migas lebih memiliki tantangan yang lebih. Terutama dampak sosial dan lingkungan.
Dampak sosial yang dimaksudkan seperti halnya terjadinya pengangguran dan penyimpangan sosial. Sedangkan dampak lingkungan bisa berupa konsekuensi terkena imbas langsung bilamana terjadi kecelakaan kerja, dan kesalahan tekhnis di lokasi sumur Migas.
“Bukan tidak mungkin sumur bisa meledak sewaktu-waktu,” ucapnya menegaskan. (roz)