SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Petani di Desa Temu, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengeluhkan banyaknya hama wereng yang menyerang tanaman padi mereka.
Pantauan di lapangan, setiap hari petani melakukan pencegahan wereng dengan menyemprotkan pestisida ke tanaman. Namun serengan hama bukannya berkurang, justru bertambah banyak.
Abdul Rokim, (43), salah satu petani mengungkapkan, hama wereng itu sulit untuk dibasmi. Sebab hewan kecil itu tidak menempel di daun padi, melainkan berada di dalam batang padi. Selain itu perkembang biakan wereng juga sangat cepat.
“Setiap pagi saya lakukan penyemprotan, habis disemprot banyak wereng yang mati, tetapi sore harinya sudah banyak lagi. Susah sekali membasmi hama wereng ini,” keluhnya.
Akibat serangan dari hama wereng tersebut, tanaman padi yang semula subur akan layu dan daunnya berubah menjadi kuning, selanjutnya padi akan mati. Dia mengaku sudah mencoba menyemprot dengan berbagai jenis obat-obatan hama dengan harga antara Rp50.000 sampai Rp120.000. Namun, wereng itu masih saja muncul.Â
“Tahun ini bertanam padi sulit sekali, kalau siang diserang hama wereng, kalau malam diserang tikus,” imbuhnya
Sementara itu, Sukur (61), petani di Desa Pomahan Kecamatan Baureno, juga mengaku pusing dengan banyak hama wereng yang menyerang tanaman padinya.
“Saya melakukan penyemprotan terhitung sebanyak 6 kali, tetapi werengnya masih selalu muncul. Pokoknya kalau 2 hari tidak disemprot, maka tanaman langsung berwarna kuning kemudian mati,” kata Sukur yang tanaman padinya berumur 13 hari.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro, Ahmad Djupari mengatakan, jika beberapa kecamatan yang sudah terserang hama wereng diantaranya, Kecamatan Kapas 130 hektar, Bojonegoro 230 hektar, Balen 4 hektar, Dander 410 hektar dan Padangan 13,5 hektar.Â
“Untuk Kecamatan Kanor sekitar 700 hektar, sedangkan kecamatan Baureno 350 hektar,” sambung Djupari, mengungkapkan.
Pihaknya menegaskan, segera memberikan penyuluhan kepada para petani di Bojonegoro, dan melakukan penyemprotan secara masal tiap desa agar wereng yang ada langsung mati.Â
“Teorinya membasmi wereng itu salah satunya dengan menyemprot secara masal, tetapi kalau nyemprotnya hanya satu atau dua petak saja, maka wereng dari sawah yang lain akan datang lagi,” pungkas Djupari.(rien)