BUMD Harus Utamakan Bisnis to Bisnis

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro- Rencana Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, Jawa Timur, PT. Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) membuka jasa outsourcing tenaga kerja mendapat dukungan   Bojonegoro Institute (BI). Lembaga yang konsen mengawal industri migas itu menilai hal itu merupakan peluang yang bagus untuk membantu mennyumbang pendatapan asli daerah (PAD). 

“Itu sah-sah saja, asal tidak meninggalkan B to B atau bisnis to bisnis,” tegas Direktur BI, Joko Purnomo kepada suarabanyuurip.com.

Menurut dia, keberadaan BBS selama ini telah menyumbangkan PAD kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, meskipun sebagian kalangan menganggap jumlahnya masih relatif kecil.

“Di dokumen BI memang sudah masuk jumlahnya, walau nilainya tidak terlalu besar,” ujar Joko tak mau menyebutkan nominal PAD yang disumbangkan BBS.

Karena itu, dia menyarankan, kepada perusahaan pelat merah itu untuk mencari celah agar mampu memberikan kontribusi besar bagi PAD Bojonegoro. Mengingat, banyak peluang yang bisa ditangkap dengan adanya industri migas di Bojonegoro.

“BBS harus mencari cara agar tetap berjalan dalam segi bisnis, tidak hanya di bagian infrastructure saja, tapi bisa pada tenaga kerja,” tegas Joko.

Baca Juga :   SIG Ajak Jurnalis Edukasi Masyarakat

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial (Disnakertransos) Bojonegoro, Adie Witcaksono membenarkan telah bekerjasama dengan PT BBS untuk melaksanakan program generasi emas Bojonegoro. Dalam program ini Pemkab Bojonegoro memberi modal Rp 20 juta pada BBS untuk melatih tenaga kerja lokal.

“Secara tekhnis mereka yang mengerjakan, kami yang menyediakan tenaga kerja,” sambung Adie. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *