Gambarkan Kondisi Pasca Proyek Banyuurip Rampung

SuaraBanyuurip.comAthok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro-Sejumlah kalangan sudah memiliki pemikiran mengenai gambaran kondisi sosial masyarakat di sekitar Blok Cepu pasca selesainya pengerjaan konstruksi Lapangan Banyuurip, yang berpusat di Kecamatan gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. 

Salah satu pendidik di Desa Katur,  Panito mengungkapkan jika konstruksi pengerjaan selesai, pihak perusahaan akan lebih diuntungkan. Salah satunya bisa menjaga jarak dengan masyarakat. Dengan kata lain, perusahaan tidak lagi bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Dia menjelaskan, penilainnya tersebut didasarkan atas indikator adanya sejumlah paket pengerjaan konstruksi didalam proyek Engineering, Procurement, and Constructions (EPC) – 5 Banyuurip. Seperti Fly Over (jembatan layang) dan gedung perkantoran beserta bangunan infrastrukurnya.

“Kalau Fly Over telah selesai, otomatis perusahaan lebih aman jika suatu misal terjadi benturan konflik sosial dengan masyarakat,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com belum lama ini. 

Panito mengaku sempat mempelajari kondisi sosial di Blok Arun, di daerah Nangroe Aceh Darussalam yang juga dioperator ExxonMobil. Menurut dia, kondisinya tak jauh beda sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi di wilayah Gayam. Kendati begitu, Panito tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Sebab, karakter masyarakat Aceh berbeda dengan Gayam. 

Baca Juga :   DKP Bersama BUMD Ingin Kelola Sampah J-TB

“Karakternya berbeda, masyarakat Gayam lebih halus,” imbuhnya.

Terpisah perwakilan LSM IDFoS, Joko hadi Purnomo saat dimintai tanggapan kondisi sosial dari aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya pasca konstruksi Banyuurip rampung membenarkan akan adanya indikator perubahan di sejumlah lini.

Dari aspek politik, dia berpendapat bisa berpotensi munculnya antar kelompok berkepentingan. Dari ekonomi, akan muncul inflasi lokal. Misalnya mahalnya harga jual barang dan jasa disekitar proyek. Sedangkan dari sisi sosial, lanjut dia, bisa berbentuk pengangguran  atau pun penyimpangan sosial. Misalnmya tindak kriminalitas. 

“Kalau dari budaya sudah bisa dirasakan sekarang,” terang dia.(roz)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *