SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Datangnya bulan Ramadan menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang kembang api di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Omzet mereka meningkat hingga jutaan rupiah, seiring tingginya permintaan di pasaran.
Samiran, salah satu agen kembang api di kawasan Mustika Plaza Cepu menuturkan, dalam dua minggu terakhir lapaknya tidak pernah sepi pembeli. Para pembeli didominasi pedagang grosir. Selain dari Kota Cepu, mereka juga berasal dari sejumlah wilayah lain seperti Kradenan, Randublatung, Kedungtuban, Jiken, Blora hingga Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
“Mereka biasanya membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali kepada para pedagang dan pengecer yang ada di desa-desa. Barangnya bisa diambil sendiri atau kita antar,†kata Samiran ketika ditemui di lapaknya.
Sebagai pedagang sekaligus agen, pendapatan yang diperoleh Samiran jelas lebih besar dibandingkan dengan pedagang maupun pengecer lainnya. Pada hari-hari biasa, Ia bisa mendapatkan Rp1 juta hingga Rp 2 juta per hari dengan keuntungan antara 15 hingga 25 persen.
Seiring dengan banyaknya permintaan, pendapatan yang diperoleh pria yang telah empat tahun berjualan kembang api ini pun ikut meningkat beberapa kali lipat. Bahkan, Samiran mengaku pernah dalam satu hari mengirim barang ke seorang pemesan hingga senilai Rp6 juta.
â€Harganya sangat bervariasi. Mulai satu Rp. 5 ribu hingga Rp. 60 ribu. Per dos. Bahkan yang Rp. 100 ribu per batang juga ada,†tandas Samiran.
Untuk memenuhi permintaan dari para pelanggannya, Samiran pun mendatangkan kembang api dalam jumlah besar. Jika pada pada hari-hari biasa, pasokan yang Ia terima rata-rata hanya dua kali dalam seminggu. Namun, mendekati bulan Ramadan ini bertambah menjadi dua kali dalam dua hari. Jumlahnya pun mencapai ratusan karton. Kembang api tersebut dipesan dan didatangkan langsung dari Semarang.
Salah seorang pengecer, Tanto mengatakan, menyalakan kembang api telah menjadi tradisi di masyarakat untuk menyambut bulan puasa Ramadhan. Sehingga saat mendekati bulan suci tersebut datang, permintaan masyarakat selalu meningkat.
“Sudah seminggu ini permintaan meningkat antara 10 hingga 15 persen dibandingkan hari biasa,†kata Tanto.
Menurut Tanto, dalam sehari Ia rata-rata bisa menjual 15 hingga 20 dos kembang api berbagai jenis dan ukuran. Jumlah tersebut belum termasuk eceran yang dijual per biji. Pembelinya pun berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.
“Kalau yang paling laris itu jenis banting dan korek,†ujar dia, menerangkan.
Seperti halnya Samiran, selain menjual eceran, Tanto juga melayani pembelian grosir, walaupun dalam jumlah kecil. Dalam sehari Yanto bisa mendapatkan penghasilan paling sedikit Rp. 500 ribu. Dari jumlah tersebut, keuntungan yang diperoleh berkisar antara 15 hingga 25 persen.(ams)