SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Â Pemilik lahan menanyakan kejelasan mekanisme penentuan harga tanah yang akan dibebaskan untuk pengembangan proyek unitisasi Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) termasuk lahan produktif atau di atas lahan tersebut masih terdapat tanaman yang bernilai ekonomis.
“Nah, kalau lahannya masih ada tanamanya terus kejelasannya seperti apa,” kata Pardan, warga asli Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, salah satu pemilik lahan.
Dia mengungkapkan, saat ini lahan miliknya seluas 1600 M2 sedang ditanami tembakau. Sementara, untuk jenis tanaman padi bisa menghasilkan 2 ton gabah. Pardan mengaku lahannya terbilang produktif lantaran bisa menghasilkan pundi ekonomi bagi keluarganya.
“Kadang ya ditanami cabai, jagung, dan padi, hasilnya lumayan untuk sumber penghasilan,” tambahnya.
Pardan mengaku khawatir jika disaat lahannya masih menghasilkan namun ternyata pembebasan segera dilakukan. Terlebih, lanjut dia, kejelasan kapan akan dilakukannya pembebasan juga masih simpang siur.
“Katanya disuruh menunggu pengukuran tapi sampai sekarang juga belum ada,” ucapnya.
Kendati begitu, pria berusia 60 tahun ini mengaku akan mengikuti alur. Pardan mengaku tak bisa berbuat banyak lantaran demi kepentingan proyek negara. Dia berharap pemilik lahan jangan sampai dirugikan.
Menurutnya, lahan yang dibebaskan kebanyakan merupakan sumber penghidupan warga sekitar yang sebagian besar menggantungkan hidup disektor pertanian.
“Saya ikut bagaimana baiknya, tetapi jika negara peduli warga kecil kalau bisa harganya yang sepantasnya,” ujarnya berharap. (roz)