SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Keberadaan industri minyak dan gas bumi (Migas) Sukowati, Blok Tuban di Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Jawa Timur, tampaknya belum memberikan dampak signifikan bagi  usaha kecil di sekitar pemboran. Mereka mengaku belum memperoleh bantuan penguatan modal dari program corporate social responsibility (CSR) dari JOint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ).
Suparman (50), warga Dusun Plosolanang, RT 16 RW 02, Desa Campurejo, mengaku, Â memiliki usaha daur ulang plastik yang dijalankannya selama satu tahun. Namun sampai saat ini belum ada bantuan modal usaha ataupun pendampingan dari operator untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas usaha yang digelutinya.
Dia mengungkapkan, usaha daur ulang ini di modali oleh keponakannya sejumlah Rp 100 juta pada tahun 2013 lalu. Dibantu 4 karyawan dari pemuda sekitar, daur ulang sampah plastik dari bekas botol dan gelas air mineral ini mampu menghasilkan bubuk plastik sebanyak 7 Kuintal.
“Tapi harus siap modal Rp 10 Juta dulu untuk membeli bahan bakunya,” imbuh bapak dua anak ini kepada SuaraBanyuurip.com
Sampai detik ini belum ada perhatian khusus ataupun dukungan baik dari pemerintah daerah maupun operator migas yang beroperasi di wilayahnya bagi kemajuan usaha yang bisa membuka lapangan pekerjaan. Â Akibatnya saat ini daur ulang yang digeluti Suparman itu terpaksa berhenti karena beberapa hal.
“Selain karena bahan baku yang sulit, butuh modal besar untuk mendapatkannya,” imbuhnya.
Suparman mengatakan, beberapa bulan pertama saat beroperasi, serbuk plastik yang sudah diselep atau digiling halus akan dijual kembali ke Surabaya. Untuk gelas plastik bekas air minum mineral dihargai Rp11.500 per kilogram, sementara botol platik bekas air mineral dihargai 7600/Kg.
“Saya hanya berharap bisa bekerja lagi karena satu-satunya mata pencaharian ya dari kegiatan mendaur ulang plastik ini,” ujarnya.
Karena terbatasnya modal yang dimiliki Suparman, usaha tersebut sekarang tak memberinya pemasukan sama sekali. Suparman hanya bisa pasrah dan mengandalkan anak-anaknya untuk makan sehari-hari.(rien)