Persawahan Tuban Mengering

SuaraBanyuurip.comEdy Purnomo

Tuban – Sejumlah titik lokasi persawahan di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang biasanya mengandalkan air dari sungai ataupun tadah hujan mulai mengering. Kekeringan ini terjadi pada persawahan yang terletak di lereng-lereng perbukitan.

Kondisi tersebut terjadi lantaran sumber air dari sungai yang biasa mereka dapat sudah berhenti mengalir. Seperti yang terjadi di sejumlah desa yang ada di bagian bawah Bendungan Kedungireng, Desa Ngino, Kecamatan Semanding.

Bendungan yang menampung dari mata air Sendang Ngino mengering sejak satu bulan terakhir. Praktis persawahan yang ada di desa-desa yang ada di bawahnya seperti, Desa Sambongrejo, Desa Genaharjo, dan Desa Panambangan, Kecamatan Semanding mengalami kekeringan. Sementara untuk melakukan pengeboran terlalu sulit karena kedalaman air yang di atas 10 meter.

“Airnya sudah tidak sampai lagi di sini, padahal sawah di sini juga banyak bergantung dari air sungai yang mengalir dari bendungan Kedungireng,” kata Suantoko (26), salah satu warga Desa Genaharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

Baca Juga :   InDes Soroti Anggaran Posyandu

Lahan persawahan yang tadah hujan lebih parah lagi. Mereka praktis sudah berhenti melakukan aktivitas pertanian sejak dua bulan terakhir.

Lahan tadah hujan banyak ditemui di Kecamatan Rengel, Soko, Parengan, Montong, Kerek, Bangilan, Plumpang, Semanding, Grabagan, dan juga di Kecamatan Jatirogo.

Petani yang mempunyai lahan tadah hujan pun merasa kesulitan memprediksi musim. Sejak beberapa tahun terakhir, antara musim penghujan dan musim kemarau, nyaris sulit dikenali datangnya tidak beraturan.

“Kalau tidak hujan ya dibiarkan bero (tidak ditanami),” kata Rasmo (60), salah satu petani tadah hujan asal Kecamatan Semanding. (edp)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *