Kemarau Berkah Bagi Perajin Batu Bata

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Musim kemarau yang dianggap musibah bagi sebagian kalangan karena menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih, justru menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur, yang berprofesi sebagai perajin batu bata di tepi Sungai Bengawan Solo.  Omzet  mereka meningkat hingga 200 persen dibandingkan musim penghujan.

Salah satu sentra perajin batu bata di Bojonegoro ini terletak di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro. Di tempat ini terlihat sejumlah perajin sedang memproduksi batu bata. Cuaca panas, serta kencangnya hembusan angin dimanfaatkan perajin untuk mengeringkan batu bata. 

Salah satu perajin batu bata di Ledok kulon, Suwoto, (48), mengatakan, jika pada saat musim kemarau seperi saat ini ia bisa memproduksi hingga 500 batu bata setiap harinya. “Kalau satu bulan  ya ada 15.000 biji,” ujar Suwoto kepada suarabanyuurip.com, Selasa (23/9/2014).

Suwoto menjelaskan, jika dibanding pada saat musim penghujan ia hanya bisa memproduksi sekira 100 hingga 150 batu bata setiap hari. “Paling banyak satu bulan itu 5.000 bata,” lanjutnya.

Baca Juga :   Sekda Bojonegoro Definitif Belum Ditetapkan, BKPP Tunggu Keputusan Bupati

Batu bata yang terbuat dari tanah liat di tepi Sungai Bengawan Solo ini di jual dengan harga Rp 500 perbiji, untuk harga matang. Sedangkan untuk batu bata mentah dijual seharga Rp 230 perbijinya.

“Kalau musim hujan harganya naik. Soalnya yang buat batu bata musim hujan sedikit,” tambahnya.

Dengan harga tersebut para perajin batu bata dalam sebulan bisa meraup keuntungan hingga Rp 7juta. Selain dipasarkan di wilayah Bojonegoro, batu bata ini juga di kirim ke sejumlah daerah seperti Surabaya Gresik dan Lamongan.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *