SuaraBanyuurip.com – Winarto
Bojonegoro – Serangan burung emprit mulai meresahkan petani sekitar Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Berbagai cara sudah dilakukan petani, namun serang burung pemakan padi itu kian menjadi-jadi.
Seperti yang terjadi di areal pertanian di Desa Ringintunggal dan Begadon. Pertanian yang mengandalkan pengairan dari Sungai Bengawan Solo itu seminggu terakhir ini menjadi sasaran burung emprit. Padahal usia tanaman baru dua bulan dan bulir padi belum berisi maksimal.
Petani di sana mengaku sudah berupaya menggunakan cara untuk menakut-nakuti burung emprit. Yakni dengan memasang boneka orang-orangan yang dibuat dari plastik dan ditancapkan di pinggir maupun tengah sawah. Namun serangan burung masih terus terjadi.Â
“Hampir semua petani sudah memasang palastik, boneka orang – orangan,” kata Santoso, petani setempat kepada suarabanyuurip.com, Jum’at (3/10/2014).
Ia mengungkapkan, biasanya petani memasang boneka orang – orangan saat tanam padi berusia dua setengah bulan. Karena pada usia tersebut kesukaan burung emprit menghisap sari padi.
“Kalau dimulai sejak awal, siapa tahu serangan burung agak berkurang mas,” tegasnya.
Namun, lanjut dia, meski sudah dipasang boneka orang – orangan, burung emprit masih menyerang. Sehingga petani tetap menjaga tanamannya mulai pagi dan sore.
“Biasanya serangan pagi antara jm 05.30 sampai 09.00 wib. Sedangkan sorenya antara jam 15.00 sampai 17.30 wib”, pungkasnya.(win)
Sementara itu dari pantauan, selain di areal padi di Desa Begadon, serangan burung emprit juga terjadi di Desa Ringintunggal. Tanaman padi di wilayah setempat sudah menginjak usia tiga bulan dan tinggal beberapa minggu sudah dipanen.(win)
“Kalu tidak dijaga pagi dan sore, padi bisa tidak berisi mas karena sarinya dihisap burung emprit” kata panito ditemu terpisah.