Jalur Migas Banyuurip Ditanami Pisang

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Aksi menanam pohon pisang di jalan kembali terjadi di kawasan jalur Migas Banyuurip, Blok Cepu di wilayah Kecamatan Kalitidu menuju Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Langkah itu ditempuh warga setelah protes atas kerusakan jalan tak segera ditanggapi.

Kali ini protes warga desa tersebut terjadi di kawasan Desa Sumengko, Kalitidu. Lokasinya tak jauh dari sentra kilang mini milik Tri Wahana Universal (TWU) yang selama ini mengolah minyak mentah dari sumur Banyuurip.

Dari pantauan di lokasi menyebut, jalan yang ditanami pisang, dan ditumpuki batu, serta kayu itu dalam kondisi ambles. Jalan sepanjang sekira 10 Km itu juga merupakan jalan poros Kecamatan Gayam – Kalitidu. Kerusakan jalan di kawasan ini dirasakan warga sejak awal tahun 2014 lalu.

Seorang warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Yanto, mengaku, tak mengetahui siapa yang menanami pohon pisang, batu, dan kayu di jalan disebelah utara kilang mini milik TWU tersebut.

“Sebenarnya, sudah lama sejak bulan Januari 2014 ada tanda berupa cat warna putih setiap saya melintas di jalan selatan perempatan Clangap itu. Namun, lama-lama diberi batu, kayu dan pohon pisang, Mas,” kata Yanto kepada suarabanyuurip.com, Rabu (08/10/2014).

Baca Juga :   RJJ Perbaiki Jalan Menuju Lapangan Gas JTB

Dia katakan, sebatang pohon pisang ditanam dengan diapit batu, dan kayu itu dimungkinkan sebagai bentuk protes warga, dan tanda bahwa titik tersebut ambles berbahaya. Karena di jalan yang berstatus jalan pekerjaan umum (PU) itu rawan terjadinya kecelakaan. Selain kendaraan umum lainnya yang melintas juga jalan utama bagi mobil tangki pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) dari kilang mini TWU.

“Kemungkinan warga kesal, dan sebagai tanda kalau ada jalan yang ambles. Agar pengguna jalan yang melintas dijalur itu tau,” ujarnya menerangkan.

Ditambahan, amblesnya jalan tersebut diduga seringnya dilewati mobil tangki minyak milik TWU yang bermuatan BBM berkapasitas lebih dari 20.000 liter per unit.

“Saya tidak menyalahkan siapapun, Pak. Terpenting, pihak TWU maupun Pemkab Bojonegoro segera membangun jalan yang sudah rusak tersebut. Agar transportasi warga bisa lancar dan tidak rawan terjadinya kecelakaan,” sambung Suparmin warga lain. (sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *