Nasib GTT Dilematis

SuaraBanyuurip.comEdy Purnomo

Tuban – Nasib Guru Tidak Tetap (GTT) di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dilematis. Pasalnya guru non pegawai negeri sipil (PNS) itu sekarang ini menjadi tanggung jawab sepenuhnya di sekolah tempat mereka mengajar.

Kepala Bidang Ketenagaan di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Tuban, Saiful Huda, menerangkan, kalau sesuai dengan ketetapan pemerintah rekomendasi Guru GTT dari kepala sekolah sudah ditiadakan sejak tahun 2005 lalu.

Di mana pada tahun 2005 lalu, kata Huda, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah meniadakan perekrutan guru bantu. Atas dasar inilah, Disdikpora sudah tidak pernah lagi mengeluarkan pengumuman perekrutan guru bantu seperti pada tahun sebelum 2005.

“Tetapi sampai sekarang masih banyak sekolah yang menggunakan tenaga guru ini, sehingga sekolah yang merekrut tenaga guru akan menjadi tanggung jawab sekolah sepenuhnya,” kata Saiful Huda.

Dengan kata lain, keberadaan GTT, honorer, ataupun guru bantu lain sudah tidak menjadi tanggung jawab dari dinas pendidikan.

Baca Juga :   Jembatan Ngasem-Sendangharjo Dibangun

Disdikpora, kata Saiful, menyadari banyaknya guru bantu atau GTT di sekolah-sekolah di Tuban, lebih karena masih kurangnya tenaga pengajar atau pendidik. Selain itu juga terpengaruh pada banyaknya lulusan perguruan tinggi di bidang pendidikan yang menganggur.

“Dilematis memang, makanya kita berharap kedepan ada regulasi baru yang mengatur tentang GTT ini. Permasalahan ini juga kami harap menjadi perhatian dari pihak-pihak yang terkait,” tandas Huda.(edp)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *