Solar Subsidi Ditimbun untuk Industri

SuaraBanyuurip.comEdy Purnomo

Tuban – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di Kabupaten Tuban, Jawa Timur disinyalir banyak dipergunakan untuk industri, dan proyek-proyek fisik yang ada di wilayah setempat.

Hal ini dilakukan lantaran harga BBM bersubsidi yang didapat dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mempunyai harga yang jauh lebih murah dibanding harga solart industri. Kondisi tersebut menjadi pemicu maraknya aksi penimbunan solar subsidi.

“Kebanyakan memang dipergunakan untuk pengerjaan proyek-proyek,” terang Kasatreskrim Polres Tuban, AKP Suharyono, di Mapolres Tuban, Sabtu (18/10/2014).

Suharyono membenarkan kalau ada beberapa kantong-kantong lokasi penimbunan solar bersubsidi. Hal itu masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.

Para penimbun biasanya mendapatkan BBM subsidi ini dengan beragam cara. Termasuk yang dilakukan, Nur Sodik, salah satu penimbun solar asal Desa Simorejo, Kecamatam Widang, Kabupaten Tuban, yang ditangkap Polres Tuban dua hari lalu.

“Tersangka mengelabuhi petugas SPBU dengan berdalih beli BBM subsidi untuk HIPPA yang ada di rumahnya. Ternyata ditimbun untuk proyek pengerjaan waduk Jabung di Widang,” terang Suharyono.

Baca Juga :   Bojonegoro akan Terima Transfer DBH Migas Lagi Dua Kali

Senada disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan di Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, Imron Achmadi. Dia membenarkan kalau biasanya penimbun BBM bersubsidi menjual kembali untuk kepentingan industri dengan harga yang lebih mahal.

“Lha pembelinya (pelaku industri dan pekerja proyek-Red) juga mendapatkan BBM, utamanya solar dengan harga yang lebih murah daripada beli BBM non subsidi,” kata Imron.

Aksi para penimbun inipun dirasa cukup meresahkan karena berpotensi pada kesediaan BBM di Kabupaten Tuban. Selain itu hal ini juga tidak dibenarkan oleh aturan-aturan yang ada.

“Kalau aturan yang ada, boleh beli BBM subsidi tetapi tidak untuk dijual kembali. Atau menggunakan BBM itu untuk usaha kecil masyarakat seperti usaha las, pertanian, atau kebutuhan nelayan,” tandas Imron. (edp)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *