SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan- Serangan tikus bukan lagi menjadi momok menakutkan bagi petani di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Karena hama itu bisa ditanggulangi dengan budidaya burung hantu.
Upaya kreatif itu saat ini sedang dilakukan petani di Desa Jugo, Kecamatan Sekaran. Mereka membuat penangkaran burung hantu untuk menekan serangan hama tikus.
Budidaya burung hantu itu berawal dari gagal panen yang dialami petani Desa Joho selama bertahun-tahun. Padahal dengan lahan pertanian yang cukup subur di wilayah setempat, petani selama setahun bisa bercocok tanam hingga tiga kali yaitu padi-padi-polowijo. Namun setiap menjelang musim panen petani selalu dibuat kelimpungan dengan serangan hama tikus.
Berbagai upaya membasmi hewan pengerat itu dilakukan. Dari memberikan obat, gropyokan hingga berbagai cara tradisional dilakukan namun tidak pernah bisa menghentikan serangan hama tikus.
Selalu meruginya petani saat musim panen itu memantik keprihatinan Sudiono. Melalui Kelompak Gabungan Petani (Gapoktan) Subur Makmur, Ia berpikir keras mencari cara memecahkan masalah klasik itu.
“Saya menangkap potensi banyaknya burung hantu liar di Desa ini. Dari situ timbul inisiatif melakukan budidaya burung hantu untuk menekan hama tikus,” kata Sudiono yang juga Ketua Gapoktan Subur Makmur kepada SuaraBanyuurip.com, Rabu (22/10/2014).
Untuk memantapkan gagasannya tersebut, Sudiono mengajak pengurus Gapoktan melakukan studi banding penangkaran burung hantu di Kabupaten Jombang dan Mojokerto. Dari menimba pengalaman tersebut dirinya kemudian menggerakkan pengurus Gapoktan membuat penangkaran burung hantu.
Sebagai tahap uji coba Sudiono membuat dua bekupon (rumah burung hantu) di sawah warga. Bekupon dibuat dari papan kayu berukuran 8X6 cm beratap seng dengan ketinggian 5 meter.
“Setelah lima belas hari, bekupon tersebut sudah ditempati burung hantu,” ujar Sudiono yang setiap malam rutin memantau bekupon uji cobanya tersebut.
Yang membuat Sudiono optimis uji cobanya berhasil. Di sekitar lokasi bekupon tersebut banyak dijumpai bekas bangkai tikus sisa santapan burung hantu.
Untuk mengembangkan budidaya tersebut, Sudiono melakukan promosi di warung-warung kopi. Antusiasme warga ternyata cukup tinggi. Mereka pun dengan biaya sendiri membuat bekupon di area sawahnya.
“Dari awal uji coba bulan Agustus lalu hingga saat ini sudah sekitar 34 bekupon berdiri di sawah. Jumlah burung hantunya sudah mencapai puluhan yang menempati bekupon tersebut,” timpal Sekretaris Gapoktan Subur Makmur, Sujadi, sambil menjelaskan luas lahan pertanian di Desa Jugo sekitar 311 hektar.
Untuk memancing minat petani agar mau membangun bekupon di sawahnya, pengurus Gapoktan selalu turun membantu saat mendirikan bekupon.
“ Biaya untuk mendirikan satu bekupon sekitar Rp250 ribu- Rp300 ribu rupiah,” tegasnya.
Upaya yang dilakukan Gapoktan Subur Makmur ini ternyata cukup efektif menekan serangan hama tikus. “Setidaknya bisa menekan serangan tikus hingga 25 persen,” cetus Sudiono yang juga Ketua Kelompok Tani Nelayan (KTN) Kecamatan Sekaran.
Menurutnya, budidaya burung hantu akan terus dikembangkan hingga mencapai target ideal. “Idealnya untuk lahan seluas 311 hektar terdapat 62 bekupon. Dengan asumsi per 5 hektar sawah ada satu bekupon,” tambah Sudiono.
Dengan budidaya burung hantu tersebut selain bisa meningkatkan produksi pertanian, juga menekan biaya untuk membeli obat pembasmi tikus.
“Kami mengharapkan adanya perhatian dari Pemkab untuk membantu pengembangan usaha ini,” harap Sudiono.
Kepala UPT Pertanian dan Perkebunan Kecamatan Sekaran Hari mengatakan, upaya yang dilakukan Sudiono merupakan terobosan inovatif untuk menekan mewabahnya hama tikus.
“Nantinya budidaya burung hantu akan dikembangkan di desa lain di Kecamatan Sekaran. Sementara ini Desa Jugo menjadi pelopor di Kabupaten Lamongan untuk budidaya burung hantu,” tambah Hari. (tok)