150 Warga Produktif di Ngampel Menganggur

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Sepertinya program Generasi Emas yang digagas Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur di bawah kepemimpinan Bupati Suyoto, tidak berlaku bagi pemuda dan masyarakat di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Bojonegoro yang masuk wilayah Ring 1 Lapangan Sukowati, Blok Tuban.

Hal ini dikarenakan baik Pemkan Bojonegoro, maupun JOB P-PEJ selaku operator Sukowati, dalam kurun waktu 4 tahun terakhir sama sekali tidak memberikan program pelatihan, dan sertifikasi bagi pemuda sekitar Ring 1 tersebut.

Ketua RW 02, Karyono, menegaskan, tidak ada sosialisasi dari perangkat desa maupun pihak Pemkab tentang program Generasi Emas. Padahal Bupati Suyoto sudah menyampaikan akan memberikan pelatihan, dan sertifikasi dengan adanya program melalui BUMD PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial (Disnakertransos).

“Gembar gembor Ggenerasi Emas pakai dana bagi hasil minyak dan gas, padahal desa kami adalah desa penghasil tapi tetap tidak diperhatikan,” ujarnya kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (4/11/2014).

Pihaknya merasa kecewa, sebanyak 150 orang usia produktif di desanya dari usia 25 tahun sampai 35 tahun masih menganggur. Jangankan pelatihan, informasi lowongan pekerjaan baik dari operator maupun pemkab tidak tersampaikan kepada warga.

Baca Juga :   BBS Kehilangan 10 juta kubik Gas Setiap Hari

“Saya yakin, banyak pekerjaan unskill yang bisa diberikan pemuda sekitar, tapi operator tidak transparan,” tegasnya.

Salah satu warga, Suyanto (33), menyampaikan, sejak 4 tahun terakhir tidak ada pelatihan ataupun sertifikasi dari JOB P-PEJ untuk bekal mendapatkan pekerjaan atau menjadi wirausaha.

“Saya saja nganggur, Mbak, mengandalkan sawah orangtua untuk hidup sehari-hari. Padahal rumah saya hanya berjarak 100 meter dari pengeboran,” ujarnya.

Dia menyatakan, pernah ada pelatihan membuat aksesoris sepeda motor dan perbengkelan dari JOB P-PEJ tahun 2012 silam. Itupun hanya sekali diberikan dan orang-orang yang dekat dengan perangkat desa saja yang mendapatkan.

“Memang banyak pemuda yang sudah kerja di dalam pengeboran, tapi kalau tidak ngebor ya nganggur,” jelasnya.

Suyanto berharap, baik JOB P-PEJ maupun Disnakertransos memperhatikan kondisi masyarakat di ring 1 Lapangan Sukowati ini. Bagaimanapun Desa Ngampel merupakan desa penghasil migas dan memberikan pemasukan kepada daerah.

“Jangan anaktirikan kami,” tukasnya.

Sementara itu, Field Administration Superintendant JOB P-PEJ Basith Syarwani, dan Kepala Disnakertansos Bojonegoro, belum memberikan keterangannya mengenai hal ini. (rien)

Baca Juga :   Datangkan Expat Hulu Migas ke Perguruan Tinggi

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *