SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Musim panen padi tahun ini, tampaknya, tak membuat petani Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sumringah. Sebab hasil panen mereka turun 50 persen dari biasanya.
Jika biasanya, setiap kali panen petani di ring satu Lapangan migas Sukowati Pad B, Blok Tuban itu bisa mendapatkan 8 ton per hektar, namun kali ini hanya mencapai 4 ton. Turunya produksi pertanian itu dikarenakan kurangnya kebutuhan air pada musim kemarau tahun ini.
“Bahkan banyak yang mendapatkan tiga ton saja,†kata Kasto, (40), petani setempat kepada suarabanyuurip usai memanen padi, Sabtu (8/11/2014).
Kasto menuturkan, dari total 30 hektar sawah yang mengelilingi lokasi pengeboran Pad B milik Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) hampir semua hasil panennya jeblok dan membuat petani merugi puluhan juta rupiah.
Padahal, lanjut dia, biaya produksi untuk satu hektar sawah mencapai sepuluh juta rupiah. Sementara hasil yang di dapat sekarang hanya sekitar empat belas juta delapan ratus.
“Ya hanya cukup untuk balik modal saja,†tukas Kasto, pasrah.
Nasib serupa dialami Sukran (50). Ia mengungkapkan, kualitas padi yang dihasilkan sawah miliknya tidak maksimal karena kebutuhan air yang kurang selama musim kemarau ini. Laba yang biasanya cukup untuk menghidupi istri dan dua anaknya selama tiga bulan hanya cukup untuk satu bulan saja.
“Sawah saya tidak ada satu hektar, terpaksa untuk menambah biaya hidup mencari sampingan lainnya,†ujarnya.
Sebelumnya Dinas Pertanian Bojonegoro telah melarang petani tanam padi di musim kemarau karena terbatasnya kebutuhan air. Namun himbauan itu tak digubris petani. Alasannya petani karena sawah itulah yang menjadi satu-satunya gantungan harapan mereka untuk bertahan hidup.
“Enak saja pemerintah bilang begini begitu, coba pak bupati suruh kesini lihat tanah dan penghidupan kami. Kalau tidak tanam padi mau makan apa kami,” pungkas Sukran.(rien)