SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Pemerintah Desa (Pemdes) Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengaku belum ada program yang disiapkan pemerintah kabupaten (Pemkab) maupun perusahaan untuk mengantisipasi membludaknya pengangguran pasca berakhirnya proyek engineering, procurement and construction (EPC) Banyuurip, Blok Cepu. Padahal saat ini ada sekira 6000 tenaga kerja (naker) lokal yang terlibat di proyek minyak yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) tersebut.
“Sampai saat ini belum ada program kemsyarakatan untuk warga desa sekitar dalam mengantisipasi selesainya proyek di sini,” kata Sekretaris Desa (Sekdes) Mojodelik, Parlin Wibowo kepada suarabanuurip.com, Rabu (12/11/2014).
Dia mengatakan, diperkirakan pengerjaan proyek Banyuurip, Blok Cepu yang dioperatori EMCL akan selesai kurang dari dua tahun lagi. Sebab, sesuai kabar yang dia terima, puncak produksi minyak Banyuurip sebanyak 165 ribu barel per hari (Bph) harus terlaksana pada kuartal ke II tahu 2015 mendatang.
“Itu sudah pasti akan diikuti dengan meningkatnya pengangguran di sekitar sini,” tegas Parlin.
Untuk mengantisipasi masalah itu, Ia menyarankan, agar segera menyiapkan program yang mengarah di bidang peningkatan ekonomi. Dengan begitu warga masih tetap memiliki pendapatan setelah berhenti bekerja dari proyek dan sebagai ganti sawah ladang mereka yang terjual untuk industri migas Blok Cepu.
“Itu harus disiapkan dari sekarang. Operator, kontraktor, Pemkab dan Pemdes harus duduk bersama membahas masalah ini,” saran Parlin.
“Jika tidak diantisipasi dari sekarang bisa menjadi kerawanan sosial,” lanjut dia.
Selain itu, tambah Parlin, tenaga kerja lokal yang pernah terlibat di proyek Banyuurip harus diprioritaskan pada proyek Unitisasi Gas Lapangan Jambaran-Tiung Biru (J-TB) yang kabarnya akan dilaksanakan setelah proyek Blok Cepu selesai.
“Mereka harus dilibatkan sesuai dengan keahlihannya masing-masing,” imbuhnya.(sam)