SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) merilis jumlah cost recovery atau biaya investasi untuk kegiatan hulu migas mencapai US$ 16 hingga US$ 17 miliar.
Demikian disampaikan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas, Â Rudi Rimbono, kepada Suarabanyuurip.com, Senin (24/11/2014).
Dia menjelaskan, jumlah tersebut berasal dari seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) yang sedang beroperasi di Indonesia. Adapun jumlah K3S yang saat ini beroperasi sekitar 300 K3S.
Pengganti Handoyo Budi Santoso ini mengungkapkan, dari 300 K3S yang ada, hanya 70 K3S yang sudah produksi. “Sisanya masih tahap eksploirasi,” ucapnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dari angka cost recovery yang ada, terdapat sekitar US$ 6,9 Miliar – 7,2 miliar yang belum bisa dipanen. Sebab, belum sepenuhnya K3S berproduksi. Pihaknya berharap agar semua elemen mendukung kegiatan hulu migas.
Dia menilai peran K3S cukup diperlukan untuk membantu mencari cadangan-cadangan baru. Skema pembagian dalam kegiatan hulu Migas dianalogikan dengan penggarapan lahan persawahan.
K3S bertindak sebagai pelaksana untuk mencari cadangan baru dengan menggunakan biaya sendiri. Jika gagal risiko ditanggung oleh K3S, namun jika ditemukan cadangan maka akan dilakukan pembagian dengan pemerintah yang diawasi oleh SKK Migas. (roz)