SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Belum bukanya kios resmi pupuk secara maksimal membuat petani sekitar lokasi ladang migas Alas Tua Barat (ATW), Blok Cepu banyak yang mengeluh. Apalagi mereka saat ini mulai membutuhkan pupuk untuk tanaman jagung dan komoditas lain di awal musim penghujan.
“Di kios resmi pupuk belum buka secara penuh, Mas. Padahal tanaman jagung sudah saatnya memupuk,” kata Tarwi, warga Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa-Timur, Selasa (25/11/2014).
Dia katakan, belum bukanya kios resmi secara maksimal tetunya akan membuat dampak negatif kepada petani. Karena, tanaman jagung maupun lainya sudah berusia 15 hari lebih, dan saatnya memberikan pemupukan.
“Kalau tidak segera bisa memupuk dipastikan hasilnya tidak akan maksimal. Karena, ada keterlambatan pemupukan,” jelasnya.
Senada diungkapkan, Gatot, petani asal Dusun Nglambangan, Desa Setren, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro. Dia mengaku, sejak seminggu lalu sudah mulai mencari pupuk. Namun, hingga saat ini belum mendapatkannya.
“Saya sudah kelililing mencari baik di kios resmi maupun dikelompok tani juga belum ada. Dengan terpaksa nanti saya akan beli penjual liar meskipun harganya selangit. Daripada tanaman saya tidak kepupuk. Yaitu, untuk Pupuk Urea dan Ponska Rp150.000 per sak berisi seberat 50 kg,” ujar Gatot.
“Kalau pupuk melalui kelompok tani biasanya Rp95.000 per sak seberat 50 kg tersebut,” imbuhnya. (sam)