SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Sebanyak delapan perwakilan aktivis Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND), dan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), melakukan aksi tabur bunga di jalur Pantura yang berada di depan Mapolres Tuban, Jumat (29/11/2014).
Aksi tabur bunga dilakukan sekira pukul 14:00 siang ini, dilakukan sebagi simbol matinya rasa kemanusiaan dari korps baju coklat. Dengan adanya bentrokan di depan kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar dan tewasnya satu aktivis bernama Muhammad Arif (17), yang diduga terlindas mobil Water Cannon.
“Ini aksi solidaritas atas meninggalnya kawan kami, juga sebagai simbol matinya hati nurani petugas yang arogan dan represif aparat kepolisian terhadap aksi mahasiswa,†kata Zainal, kordinator aksi kepada Suarabanyuurip.com, di sela-sela aksi.
Meski hanya sebentar, mereka sempat menyuarakan beberapa tuntutan. Diantaranya adalah mengutuk tindakan represif yang dilakukan aparat kepolisian dalam bentrokan di kampus UMI sehingga menewaskan M Arif, meminta kepada Komnas HAM, Komisi III DPR RI, Kompolnas, agar menyelidiki kasus kekerasan ini.
Kemudian meminta pemerintaha Jokowi dan JK harus bertanggung jawab dan segera mencopot Kapolres Makasar, Kapolda Sulsel, dan Kapolri.
“Kemudian batalkan juga kenaikan harga BBM yang menjadi pemicu seperti ini,†lanjut Zainal.
Puas melakukan tabur bungan dan orasi, mereka kemudian memberikan sisa bunga ke salah satu perwira Polres Tuban.
Kabag Ops Polres Tuban, Kompol Suhartono, kepada Suarabanyuurip.com menyebut pihaknya menerima dengan tangan terbuka bunga kematian dari para demonstran.
“Kita terima,†kata Suhartono singkat.
Puas dengan aksinya, mereka langsung membubarkan diri dengann tertib. Serta berjanji akan terus melakukan aksi penolakan kenaikan BBM.(edp)