SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan-Harga cabe di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur terus merangkak naik. Di sejumlah pasar tradisional harganya telah menembus Rp70 ribu per kilogram (Kg).
Dari pantauan di sejumlah pasar di Lamongan, seminggu lalu harga cabe berkisar Rp 55 ribu/kg, saat ini harganya mencapai Rp70 ribu/kg. Para pedagang makanan dan minuman (mamin) dan ibu rumah tangga dibuat klimpungan dengan meroketnya harga bumbu berasa pedas ini.
“Sudah sejak tiga hari lalu harga cabe keriting dan cabe merah Rp70 ribu mas,†kata salah satu pedagang bumbu di Pasar Sukodadi, Rifa’I kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (29/11/2014).
Ia mengaku, tingginya harga cabe ini dikarenakan harga kulakkan sudah tinggi. Akibat meroketnya harga cabe ini membuat penjualan cabe sepi. Pembeli yang biasanya membeli per kilogram, sekarang menurunkan jumlahnya.
“Sekarang kebanyakan prapatan (seperempat kilogram) dan satu ons,†ujar dia.
Salah satu pedagang cabe dipasar Sekaran, Maseni, mengatakan melonjaknya harga cabe dikarenakan pasokan yang terbatas. Musim kemarau yang cukup panjang menjadikan banyak tanaman cabe yang mati dan buahnya membusuk di pohon.
“Kondisinya diperparah dengan naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) mas sehingga harga cabe terus naik,†paparnya.
Melonjaknya harga cabe menjadikan penjual mamin merasa terpukul. Mereka harus menghemat bumbu atau sambel untuk menu masakan hingga 75 persen.
“Bumbu dan sambelnya ndak sepedas biasanya Mas. Cabenya dikurangi hingga 70,†cetus penjual soto di Pasar Babat, Yitno.
Dengan mengurangi cabe menurutnya banyak pelanggan yang tidak puas, namun dirinya tidak bisa berbuat banyak.
Yitno berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi melonjaknya harga cabe tersebut. Jika terus berlarut dirinya kuatir dagangannya akan gulung tikar. Selain karena harus nomboki harga cabe yang mahal, jualannya juga ditinggalkan pelanggan karena masakannya tidak lagi pedas. (tok)