SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Sebagian petani sekitar ladang minyak Banyuurip, Blok Cepu di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur memilih sitim rancah dalam menanam padi ketimbang dengan cara tandur. Karena selain biaya produksinya lebih ringan, juga perawatannya mudah.
Nasir, salah satu petani Desa Gayam, mengaku, sejak sekira dua tahun ini tak lagi mengolah lahan pertaniannya seluas sekira 1,5 hektar dengan cara tandur seperti yang banyak dilakukan petani pada musim penghujan. Melainkan lebih memilih dengan cara ngrancah.
“Sejak 2012 hingga sekarang saya milih rancah. Karena, modal untuk rancah lebih ringan ketimbang rendengan,” kata Nasir kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (29/11/2014).
Dia mengatakan, untuk lahan seluas 1,5 ha tolal modal yang dikeluarkan untuk penanaman sistim rancah hanya sekira Rp4 juta. Sedangkan tandur mencapai kurang lebih Rp7 juta.
Nasir mengaku, selain modalnya lebih murah, menggunakan sistim rancah lebih mudah dan ringan. Yakni lahan yang akan ditanami padi cukup dibersihakan dengan ranting bekas tanaman.
“Tapi kalau rendengan berat. Sebab masih harus mebajak sawah, nunggu usia benih padi layak ditanam dan lain sebagainya,” ujar pria yang juga perangkat Desa Gayam ini mengungkapkan.
“Sama saya juga milih tak rancah saja, Mas. Selain biaya ringan, perawatannya juga mudah. Paling cuman matun itu saja,” sambung Wajib petani lainnya.(sam)