SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Pendidikan seks remaja perlu mendapat perhatian serius bagi sekolah tingkat SMP maupun SMA. Seks di kalangan remaja selama ini masih dianggap tabu, sehingga dikhawatirkan akan terjadi tindakan menyimpang pada kehidupan mereka.
Yuswanto, Salah satu guru Bimbingan Konseling di salah satu SMK di Cepu, mengangap penting pendidikan seks di kalangan pelajar. Sayangnya pendidikan bidang ini mulai ditinggalkan.
“Selama ini memang pernah ada pembelajaran di kelas terkait pendidikan seks, dan bimbingan konseling,” jelas pria 39 tahun ini.
Terkait hal itu, dia menjelaskan, peran PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) juga sangat penting, karena disitu mengutamakan konseling sebaya. Dari situ akan lebih mengena pada remaja. Akan tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Konseling sebaya itu, pelaku harus paham mengenai PMS (Penyakit Menular Seksual), dan Kesehatan Reproduksi di samping intervensi dari pihak sekolah.Â
Selain itu pemantauan perkembangan Fisiologis dan Psikologis remaja, penting dilakukan oleh orangtua dalam mendampingi anak. Itu dimaksudkan untuk menghidari terjadinya tindakan, dan perilaku menyimpang.
“Peranan yang lebih penting adalah perhatian dari orngtua, karena benteng yang paling penting adalah keluarga,” tandasnya.
Seorang pengamat social dari Kecamatan Kedungtuban, Solekan, menuturkan, perilaku seks bebas remaja saat ini makin memprihatinkan. Remaja saat ini telah menjamah pada lingkungan lokalisasi.
“Usia SMP juga menjadi pelaku seks bebas di lokalisasi,” kata Solekan seraya menambahkan, pihaknya juga banyak menerima informasi terkait kehidupan seks yang menyimpang dari kalangan remaja.
Hal itu menimbulkan kekhawatiran terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Maka perlu pendidikan seks di sekolah sesuai dengan usianya. Artinya, tidak transparan akan tetapi proporsional.Â
Meskipun penderita saat ini banyak ditemukan, tapi itu seperti fenomena gunung es. Satu ditemukan, masih ada puluhan bahkan ratusan penderita yang belum terdeteksi. Solekan memperkirakan jumlah penderita akan terus bertambah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Heny Indrianti, tak  menolak adanya peningkatan jumlah penderita AIDS di Kabupaten Blora. Namun demikian pihaknya belum mengetahui secara pasti terkait peningkatan jumlah tersebut.
“Yang jelas ada peningkatan, tapi hanya sedikit,” katanya.
Hal itu didasarkan pada survey yang dilakukan oleh institusinya di beberapa lokasi. “Dari zero survey yang kita lakukan memang cenderung ada peningkatan,” jelasnya pada wartawan.
Terkait dengan pendidikan seks di sekolah, pihaknya mengaku telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan. Tujuannya untuk memberikan penjelasan mengenai pendidikan seks di sekolah-sekolah dan bahaya penyakit AIDS. (ams)