SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Warga Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur akhirnya memblokir pintu masuk menuju Pad B, Lapangan Sukowati, Blok Tuban, dengan menggunakan tumpukan papan kayu berbentuk palet, Jumat (2/1/2015) sore.
Tokoh masyarakat setempat, Pamuji, menegaskan, selama dua item yakni tali asih program, dan program CSR belum direalisasikan, warga tidak akan memindahkan tumpukan-tumpukan kayu tersebut meskipun ada kendaraan besar akan masuk lokasi.
“Dalam surat kesepakatan yang ditandatangani oleh Basith Syarwani dan Dody Ibnu Fajar selaku perwakilan dari JOB P-PEJ satu bulan yang lalu, sudah menyanggupi komitmen itu,†jelasnya.
Meskipun telah dilakukan pertemuan dengan pihak JOB-PPEJ di Balai Desa setempat siang tadi, namun bukanlah Basith Syarwani ataupun Dody Ibnu Fajar yang menemui warga melainkan Yoga selaku pimpinan keamanan. Itupun tidak bisa memberikan keputusan atas tuntutan warga.
“Kami minta Dody dan Basith yang memberikan penjelasan kenapa komitmen yang sudah disepakati dilanggar,†tandasnya.
Sementara itu Ketua RW 2, Karyono, mengatakan, dua desa lain yakni Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, dan Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, sudah mendapatkan program CSR meskipun pengeboran dilakukan di Desa Ngampel.
“Kami berharap, apa yang menjadi hak warga diberikan sesuai ketentuan yang telah disepakati bersama. Ingat, sesuai kesepakatan bersama,†imbuhnya.
Dia jelaskan, kesepakatan yang ditandatangani pihak JOB P-PEJ adalah realisasi tali asih progam yang diberikan 6 bulan sekali sebesar Rp150 juta untuk pembangunan desa sesuai perencanaan di dalam RPJMDes, serta realisasi program CSR senilai Rp558.100.000 yang dialokasikan untuk 13 item. Beberapa item diantaranya saluran air, bedah rumah, pelatihan membatik, dan program pemberdayaan lainnya.
“Pembohong semuanya, mereka hanya cari untung saja ternyata,†pungkasnya.  (rien)