SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan-Turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak Kamis (1/1/2015) lalu, belum dinikmati nelayan di pantai utara (Pantura) Lamongan, Jawa Timur. Alasannya, selama seminggu terakhir nelayan tidak ada yang melaut akibat buruknya cuaca.
Dari pantauan di pelabuhan Kecamatan Paciran dan Brondong, ratusan perahu nampak disandarkan. Para nelayan banyak yang prei miyang (libur melaut) dikarenakan tingginya gelombang dan kencangnya angin di tengah lautan.
“Sudah seminggu ini para nelayan banyak yang tidak melaut mas. Cuacanya sangat buruk,†kata salah satu nelayan asal Desa Kranji kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (3/1/2015).
Cuaca buruk bisa berakibat fatal jika nelayan tetap nekat melaut. Karena ombak besar dapat menghancurkan perahu. Selain itu saat di saat musim angin seperti saat ini hasil tangkapan ikan juga sepi.
Para nelayan mengaku sudah tahu turunnya harga BBM khususnya solar. Namun demikian karena tidak melaut nelayan masih belum membeli solar dengan harga baru.
“Belum beli solar mas karena belum melaut,†cetus nelayan asal Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Nugroho.
Turunnya harga premium Rp7600 per liter dari Rp8500 per liter diakuinya cukup membantu para nelayan karena selama ini keberadaan preium cukup fital untuk kebutuhan melaut.
“Nelayan mengharapkan selain harga premium turun juga diimbangi dengan pasokan yang memadai. Selama ini yang selalu menjadi kendala bagi nelayan adalah sering kesulitan mendapatkan premium untuk melaut,†cetus lelaki bertubuh kerempeng ini.(tok)