SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kenaikan harga LPG 12 Kg dari Rp 114.000 pertabung menjadi Rp 135.000 pertabung mengundang kekhawatiran kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Alasannya, kenaikan harga tersebut bisa memicu adanya migrasi dari penggunaan elpiji 12 Kg ke elpiji 3 Kg.
Untuk mengantisipasi hal itu, wakil rakyat meminta kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bojonegoro untuk melakukan pengawasan ketat ditsribusi elpiji ini dari agen maupun pangkalan ke masyarakat.
“Jangan sampai ada migrasi besar-besaran ke elpiji 3 Kg, takutnya jika ketersediaan elpiji 3 Kg tidak sesuai dan terjadi kelangkaan,” kata Ketua DPRD Bojonegoro, Mitroatin kepada suarabanyuurip.com, Jum’at (16/1/2015).
Menanggapi hal itu, Kepala Disperindag Bojonegoro, Basuki, menjamin tidak ada kelangkaan stok elpiji ukuran 3 Kg dikarenakan kenaikan harga elpiji ukuran 12 Kg. Bahkan, pihaknya terus melakukan pemantauan secara rutin baik ditingkat agen maupun pangkalan.
Basuki menambahkan, meskipun harga tabung elpiji 12 Kg mengalami kenaikan hal ini tidak akan berpengaruh pada distribusi elpiji 3 Kg. Karena selain pengawasan juga adanya penambahan stok dari Pertamina.
“Tahun lalu jumlah tabung elpiji 3 Kg kurang lebih berjumlah 7 Juta tabung, dan tahun ini meningkat sebanyak 8 tabung,†ujar Basuki, mengungkapkan.
Ia menegaskan, selama ini belum ada laporan dari masyarakat adanya migrasi penggunaan tabung elpiji dari 12 Kg ke 3 Kg oleh Hotel, restaurant, maupun home industry. Jika ada, maka akan langsung menindak tegas karena hal tersebut tidak diperbolehkan.
“Kalau untuk usaha skala besar tidak boleh menggunakan elpiji bersubsidi,†pungkasnya.(rien)Â