Menangkap peluang sepertinya menjadi fenomena penting. Terlebih jika berkaitan dengan profesi yang menjanjikan keuntungan.
PAGI menjelang siang ketika Andreas (45), sibuk membentuk batu akik pesanan pelanggannya. Berbekal mesin berkapasitas 370 watt, Grenda Batu Permata, dia tampak telaten membentuk tiap lekukan bongkahan batu kecil menjadi batu akik.
Berbagai macam batuan bisa dia garap tanpa ada kesulitan. Berbekal keahlian yang dia miliki, mata cincin, liontin, bahkan untuk ikat pinggang bisa dia kerjakan.
“Semua jenis batu bisa saya kerjakan. Meskipun saya tidak begitu hafal dengan nama batuan,†kata Andreas, saat ditemui di rumahnya di Lorong 2-A, Sitimulyo RT 3 RW 10 Kelurahan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Awalnya berangkat dari iseng dua tahun lalui. Andreas menyulap bongkahan batu akik menjadi beberapa perhiasan termasuk cincin dan liontin. Kini order membanjir dari para pengemar batu akik.
Baru dua minggu terakhir ini dia menggunakan mesin. Semula menggunakan alat manual, baik untuk memotong maupun membentuk batu. Meski begitu para penggemar tertarik pada garapannya.
Setelah menggunakan mesin hasil karyanya lebih halus. Kepercayaan publik pada hasil karyanya makin diminati warga Cepu, maupun dari luar daerah. Jadinya hampir tiap pagi hingga sore banyak penggemar batu akik mendatangi bengkelnya.
Di tangan Andrean bongkah batu akik bisa dibentuk hingga jadi dalam waktu 1,5 jam. Tentunya sesuai pesanan dari pelanggannya. Mulai memotong, membentuk, sampai finishing dia dibantu adiknya.
“Peran adik saya mempercepat pekerjaan,†kata pria yang akrab dipanggil. Andri, ini.
Butuh waktu yang lebih lama lagi untuk mengerjakan ukuran batu yang lebih kecil, dengan ukuran di bawah 1 Cm. Kalau ukuran biasa pada umumnya, bahkan lebih besar yang mencapi 3 Cm, dia mampu menyelesaiakannya dalam waktu 30 menit.
Agar batu berkilau di pandang, dia gosok dengan Bambu Apus dan Bambo Wulung. “Setelah itu baru saya beri serbuk intan, sebagai akhir finishing karena masih ada pori-pori yang terlewati dari hasil gosokan bambu,†jelasnya.
Itu dia lakukan untuk mengawetkan batu hasil garapannya. Dalam sehari dia mampu mengerjakan 10 biji batu akik. “Kadang juga tiga sampai empat buah, tapi setiap hari ada terus,†katanya seraya menambahkan, untuk jasa pembuatan satu buah batu akik, dipatok tarif Rp25.000.
Profesi ini Andreas bisa menghidupi keluarganya. Keahlian ini pula yang menjadi dirinya alih profesi, dari semula sebagai kuli bangunan, dan pekerjaan serabutan lainnya. (ahmad sampurno)