Memungut Ikan Munggut yang Bisa Dipungut

HAMPAR bantaran Sungai Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur kali ini berbeda dengan ketika musim kemarau berlangsung. Tak ada lagi gelaran pasir yang biasa dipakai anak-anak bermain bola. Pun tak ada anak-anak mandi di sungai yang membelah Bumi Angling Dharma.

Luapan air akibat musim penghujan, membuat bantaran yang dulunya kering kerontang, kini tertutup riak-riak kecil. Tampak pula pusaran air di beberapa titik menghanyutkan material sampah.

Tak terlihat lagi penambang pasir mekanik maupun tradisional yang mengeruk pasir demi memenuhi pundi-pundi di rumah. Yang terlihat adalah masyarakat sekitar berbondong-bondong mencari ikan yang terbawa arus dari luapan sungai terpanjang di pulau Jawa itu.

Salah satu momen yang ditunggu masyarakat baik tua, muda, anak-anak, untuk ramai-ramai mencari ikan. Dengan mudah mereka menggunakan keranjang atau jaring kecil tanpa harus memancing berjam-jam lamanya.

“Banyak ikan yang terdampar di pinggir sungai karena luapan air, jadi kami memanfaatkan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya,” kata Aris (30), warga Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro yang mengaduk aduk air di tepian sungai dengan keranjang nasi.

Baca Juga :   Sisa Trauma di Rembang Petang

Tidak sedikit warga mendapatkan ikan Wader, Bader, Udang, Kutuk, dan masih banyak jenis ikan air tawar lainnya. Bahkan, ukuran ikan yang didapat ada yang sebesar telapak tangan orang dewasa.

Namun, kekecewaan nampak dari raut wajah orang-orang yang mendapatkan hasil tangkapannya. Karena, hampir semua ikan berbau minyak tanah, dan terdapat bercak-bercak minyak di tubuh ikan.

Hal itu bukan berarti mereka melepas kembali ikan-ikan yang tidak berdaya itu. Karena dengan harapan tidak beracun dan masih dapat dimakan, ikan-ikan yang diletakkan di dalam kantung plastik dibawa pulang untuk digoreng sebagai lauk makan malam.

“Kok bau minyak tanah ya, tapi kalau dicuci pasti hilang baunya. Lumayan, bisa buat lauk nanti malam dengan sambal mentah dan lalapan,” kata Nurhayati (25) dengan ceria.

Fenomena alam yang biasa disebut warga sekitar dengan istilah Munggut kali ini terasa berbeda dengan tahun sebelumnya.  Entah apa sebabnya, namun kecurigaan pada limbah dari kegiatan sumur tua menjadi pertanyaan di benak semua.

Baca Juga :   Bu Siti Setia Menapaki Usaha Kios Koran, Pernah Berjaya Era 1998 (2)

“Tadi banyak yang bilang, dengar-dengar minyak di sumur tua bocor,”ujarnya lugu.

Sangat disayangkan, ritual mencari ikan yang dilakukan bertahun-tahun setiap musim penghujan datang, menjadi sebuah kekecewaan. Kabar pencemaran di sungai tidak jelas dari mana datangnya, kian mengecewakan mereka.

“Kami sudah mendapatkan laporan dari masyarakat terkait ikan yang bau minyak tanah, tapi dari hasil laboratorium tidak ada pencemaran di Sungai Bengawan Solo. Terlebih dari kegiatan di sumur tua,” kata Kepala Bidang Laboratorium dan Pengkajian Lingkungan, Badan Lingkungan Hidup, Kabupaten Bojonegoro, Heri Susanto. (ririn wedia)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *