SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kegiatan flaring di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak hanya berdampak pada penurunan kualitas udara, dan kebisingan. Namun juga terjadi peningkatan suhu bagi lingkungan di sekitarnya.
Hal itu disampaikan Development Manager ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Wishnu Bahriansyah, dalam pemaparan adendum analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), RKL & RPL perubahan waktu flaring Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, di Ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, beberapa waktu lalu.
Wishnu mengungkapkan, di dalam revisi adendum Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), penentuan potensi dampak penting peningkatan suhu ditinjau melalui tujuh kriteria. Di antaranya jumlah manusia yang terkena dampak, luas wilayah persebaran dampak, lama dampak, intensitas dampak, benyaknya komponen lingkungan lan yang terdampak, sifat kumulatif dan berbalik atau tidak berbalik dampak.
Wishnu menjelaskan, dampak itu akan muncul akibat adanya perubahan flaring dari 23 Million Standard Cubic Feet per Day (MSCFD) menjadi 70 MMSCFD. Dengan indiskasi area sebaran dampak berada di Dusun Samben dan Ledok, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam.
“Potensi dampak akan berlangsung selama masa flaring dan bersifat sementara,†tegas dia.
Wishnu menyatakan, intensitas dampak berlangsung pada saat flaring dilakukan di tahap konstruksi selama 6 sampai 18 bulan. Namun setelah fasilitas injekasi gas siap beroperasi, maka kegiatan flaring secara terus menerus akan diberhentikan.
“Oleh karena itu, intensitas dampak terjadi hanya pada satu tahapan kegiatan,†lanjutnya.
Dia menyampaikan, potensi peningkatan suhu adalah dampak yang tidak bersifat kumulatif di atmosfer. Oleh karena itu, peningkatan suhu dan kebisiangan akan segera hilang ketika mesin dimatikan. Sehingga tidak terdapat sumber peningkatan suhu lainnya yang signifikan dalam radius 3 Km dari flare stack.
“Potensi dampak bersifat berbalik, karena peningkatan suhu tidak bersifat kumulatif dan dampak berlangsung dalam waktu tidak lama,†tukasnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Lingkungan Hidup (BLH) Bojonegoro, Tedjo Sukmono, meminta EMCL untuk memperhatikan lingkungan dengan meningkatkan penghijauan atau sabuk hijau. Karena manfaat dari pohon selain menekan karbon dioksida, juga mengurangi peningkatan suhu yang terjadi nantinya.
“Kami minta operator memberikan program kemasyarakatan untuk menanggulangi masalah suhu, tolong jangan dianggap remeh untuk hal itu,†harap Tedjo.(rien)