Flaring Blok Cepu Tingkatkan Intensitas Cahaya

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro –  Pengoperasian flaring selama lima bulan dalam peningkatan produksi lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu berdampak pada peningkatan intensitas cahaya. Terlebih dilanjutkan pengoperasian flaring CPF selama 24 jam hingga produksi penuh dengan kapasitas pembakaran 23 sampai 70 MMSCFD.

Development Manager ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Wishnu Bahriansyah, saat pemaparan prakiraan dan evaluasi dampak penting flaring di ruang Angling Dharma, lantai II Pemkab Bojonegoro beberapa waktu lalu menyampaikan, flaring yang akan dilakukan pada kapasitas 23 sampai 70 MMSCFD akan berdampak pada peningkatan intensitas cahaya.

“Sebagian penduduk yang bermukim di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam berpotensi terkena dampak peningkatan intensitas cahaya saat beroperasinya flaring,” ujar pejabat dari operator Blok Cepu tersebut.

Dia menyebutkan, peningkatan intensitas cahaya hanya akan dirasakan oleh masyarakat,  karena konstruksi rumah di sekitar tapak kegiatan adalah rumah permanen. Apalagi konstruksinya tertutup, dan pada malam hari warga beristirahat di rumah.

“Potensi peningkatan intensitas cahaya yang terjadi di sekitar lokasi CPF akan tersebar pada radius 540 meter dari flare, namun peningkatan cahaya hanya akan dirasakan pada malam hari, ” lanjutnya.

Baca Juga :   Pertamina EP Cepu Kenalkan TOGA ke Pesanggem Sekitar JTB

Dia mengatakan, potensi dampak akan berlangsung selama masa commissioning 6-18 bulan yang bersifat sementara. Oleh karena itu, potensi dampak tidak berlangsung secara kontinyu. Selain itu, juga akan berpotensi memberikan ketidaknyamanan, dan keluhan masyarakat, serta gangguan terhadap flora darat.

“Komponen lingkungan lainnya yang berpotensi akan terkena dampak, adalah gangguan kenyamanan dan persepsi masyarakat,” tandasnya.

Dia mengatakan, potensi peningkatan intensitas cahaya adalah dampak yang tidak bersifat kumulatif di atmosfer. Oleh karena itu peningkatan suhu akan segera hilang, ketika mesin dimatikan maka kebisingan akan hilang. Hal itu tidak terdapat sumber peningkat cahaya lainnya yang signifikan dalam radius 3 Km dari flare stack.

Sementara itu, Direktur Utama Lima2B, Mugito Citrapati, menegaskan, EMCL perlu melakukan pemetaan ulang untuk wilayah terdampak adanya flaring baik pada kapasitas 23 MMSCFD maupun 70 MMSCFD. Selama ini selama ini dinilai kurang tepat.

“Selama ini EMCL kurang komunikasi dengan masyarakat, jadi tolong untuk lebih mengutamakan dampak flaring ini dengan berkoordinasi baik pemdes dan masyarakat terdampak,” ujarnya.

Baca Juga :   SKK Migas Jabanusa Akan Cek Rencana Pemanfaatan GDK

Gito, sapaan akrabnya, menyampaikan,  sampai sekarang masyarakat belum mengetahui wilayah mana saja, dan dampak apa saja yang akan diakibatkan dari kegiatan flaring oleh EMCL. Sehingga, pihaknya meminta agar EMCL memberikan sosialisasi di tingkat bawah.

“Kami minta agar EMCL membentuk tim pengendali dampak lingkungan agar masalah sosial bisa tertangani dengan baik,” paparnya.

Bapak satu anak ini menyatakan, EMCL perlu mengetahui kondisi tanaman padi, dan holtikultura lainnya yang ada di sekitar GOSP saat ini. Meskipun tanamannya tumbuh subur akan tetapi tidak menghasilkan buah sama sekali.

“Kami tidak tahu, apakah karena flaring atau apa. Yang jelas, sebelum ada GOSP disitu, tanaman tumbuh subur, dan bisa berbuah. Kami minta EMCL segera menindaklanjutinya,”pungkasnya. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *