SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Di Dusun Mlaten, Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, terdapat satu makam keramat yang disakralkan warga setempat.
Cerita para tetua di sana, pada kisaran tahun 1994 lalu warga setempat tidak berani sembarangan masuk kompleks makam ini. Terlebih dengan banyaknya pohon-pohon besar yang ada di sekitar lahan kosong setempat.
“Dulu tidak ada orang berani begejekan (sembarangan) di sekitar kompleks makam ini,†kata Warsono (80), salah satu warga setempat kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (7/2/2015).
Tetapi kesan masa lampau ini jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Saat ini, makam ini berada tepat di tengah pemukiman warga. Tepatnya sejak tahun 1997 lalu.
“Barulah tahun 1997 lalu, saya terpaksa menempati lahan yang ada di dekat makam ini,†kata pria lanjut usia ini.
Pria yang pertama kali membuat rumah di lahan keramat ini bercerita, rumah dia yang awalnya berada di pinggir Bengawan Solo terpaksa dipindah. Lantaran Abrasi dari Bengawan Solo yang melintasi desa ini semakin parah. Bisa disebut, Warsono merupakan korban pertama kali adanya abrasi di desa setempat.
“Sekarang sudah banyak yang pindah ke sini karena tanah dan rumah terkena longsor,†kenang Warsono.
Perangkat Desa Kebomlati, Abdullah, membenarkan kalau tanah yang sekarang menjadi pemukiman warga ini awalnya tanah yang dianggap keramat.
“Warga dulu menganggap tanah ini keramat, tapi mau bagaimana lagi kondisi yang mendesak sehingga kami harus merelokasi rumah yang terkena abrasi kesini,†jelas Abdullah.
Tanah tersebut merupakan tanah desa. Tetapi sekarang dipetak-petak untuk ditempati relokasi bagi warga yang rumahnya terkena abrasi.
“Sekarang jumlahnya sekitar 25 rumah, semuanya adalah rumah yang awalnya terkena longsor dan terpaksa kami pindah kesini,†jelasnya.
Apabila dihitung sejak awal relokasi. Berarti dalam 18 tahun terakhir sudah ada 25 rumah warga desa setempat yang menjadi korban. Dimungkinkan jumlah ini terus bertambah mengingat abrasi yang semakin parah.(edp)