SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Bagi warga Bojonegoro, Gresik, maupun Tuban, yang suka mengkonsumsi jamu tradisional, nama Desa Pajangan, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sudah tak asing lagi ditelinga mereka. Karena Pajangan hingga saat ini masih menjadi sentra jamu gendong di bumi Sunan Drajat -sebutan lain Lamongan.
Ratusan perempuan menekuni usaha ini sejak puluhan tahun secara turun temurun untuk membantu menopang ekonomi keluarga.
Meski jamu kemasan produksi pabrikan menjamur di pasaran, ternyata tak menggerus keberadaan jamu gendong. Jamu berbahan empon-empon berkhasiat obat ini masih banyak diminati masyarakat. Apalagi masyarakat di Desa Pajangan masih setia menekuni usaha ini dan menjual dengan cara mider (berkeliling) dari kampung ke kampung.
“Ada puluhan perempuan warga Pajangan yang menjadi penjual jamu gendong, “ kata Kepala Desa Pajangan Muhid Rais kepada suarabanyuurip.com, Minggu (22/2/2015).
Penjual jamu gendong Pajangan berjualan tidak hanya di wilayah Lamongan. Namun juga njajah milangkori di Kabupaten Tuban, Gresik dan Bojonegoro. Setiap bakul jamu telah memiliki area pasar sendiri sehingga tidak sampai terjadi persaingan sesama bakul jamu gendong.
“Harga jual jamu tergantung dari wilayah tempat berjualan. Kalau berjualan disekitar Lamongan, segelas jamu harganya Rp1000. Namun jika di luar Lamongan bisa Rp2000-Rp.2500 pergelas,†papar Muhid.
Selama ini produksi jamu Desa Pajangan masih tetap bertahan karena setiap penjual jamu selalu menjaga kualitas dan kebersihan bahan baku jamu.
“Meski tidak ada pembinaan dan pengawasan dari Dinas Kesehatan, para bakul jamu selalu menjaga bahan-bahan yang digunakan, “ ujar Muhid lagi.
Salah satu bakul jamu, Suparmi, (63), mengaku, sudah sekitar 35 tahun berjualan jamu gendong. Setiap hari dirinya menjajakan jamu dengan berjalan kaki belasan kilometer.
“Dari berjualan jamu saya bisa menyekolahkan tiga anak saya sampai lulus SMA,†tutur Suparmi dengan bahasa krama.
Dalam sehari nenek yang masih tampak sehat ini mampu mendapatkan keuntungan bersih Rp50 ribu-Rp70 ribu. Hasil itu diperoleh dari menjual jamu di sekitar Kecamatan Babat mulai pukul 10.00 hingga Rp16.00.
Produksi jamu dilakukan Suparmi pada saat malam hari. Ada sekitar lima jenis jamu yang dibuatnya yaitu jamu kudu laos, beras kencur, irengan, temu lawak dan sinom.
“Meski tidak bisa nyugehi (membuat kaya) dari berjualan jamu bisa nguripi (menghidupi,†ujar Suparmi penuh rasa syukur. (tok)