SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Meski harga premium naik, para sopir Mobil Penumpang Umum (MPU) di Lamongan, Jawa Timur tidak menaikan tarif angkutan.
“Tarifnya pancet (tetap), Mas. Kami tidak berani menaikkan karena naiknya premium cuma 200 rupiah perliter,“ ujar sopir MPU trayek Babat-Kedungpring, Sugeng, kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (2/3/2015).
Para sopir MPU tidak berani menaikkan tarif karena kuatir akan dikomplain penumpang, dikarenakan kenaikan harga BBM relatif kecil.
Meski demikian mereka mengaku walau kenaikan harga BBM sedikit, namun cukup berdampak pada penghasilan.
Sopir MPUÂ jurusan Babat-Lamongan, Bambang, mengaku, sejak harga premium naik pendapatannya berkurang Rp15 ribu-Rp20 ribu perhari.
“Setoran ke juragan (pemilik MPU) tidak bisa dikurangi, Mas. Selain itu pengeluaran untuk membeli premium juga bertambah,“ cetusnya bernada mengeluh.
Bambang mengaku tidak berani menaikkan tarif, karena khawatir tidak laku. Hal ini disebabkan MPU trayek Babat-Lamongan cukup banyak, tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang relatif sepi.
“Meski pendapatan berkurang, ya dijalani saja, Mas. Mau kerja apa lagi karena tidak punya ketrampilan lain selain mengemudi,“ ujar warga Karangtinggil, Pucuk yang sudah 12 tahun menjadi sopir MPU ini.
Beberapa penumpang MPU yang dikonfirmasi SuaraBanyuurip.com mengaku tidak ada kenaikan tarif MPU. “Tarifnya masih normal. Tadi dari Babat-Tritunggal 5.000 rupiah, “ ujar salah satu penumpang MPU jurusan Babat-Lamongan, Tutik.(tok)