Sekkab Tak Terima Masyarakat Dijadikan Kambing Hitam

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Pernyataan Field Manager Pertamina EP Aset IV Fiel Cepu, Wresniwiro, takut dibunuh jika turun langsung ke lokasi sumur minyak tua di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur, direaksi Sekretaris Kabupaten (Sekkab) setempat, Soehadi Moeljono.

Soehadi meminta kepada pejabat Pertamina EP Asset IV agar tidak takut mati dalam mengelola sumur tua karena masyarakat Bojonegoro tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu.

“Kalau Pak Wresniwiro takut mati dalam menghadapi masalah di sumur tua, betapa enaknya jadi pejabat seperti itu,” sindir Moelyono.

Dia menegaskan, bagi Pemkab Bojonegoro, apapun yang terjadi di sumur tua sudah menjadi konsekuensi dan tanggung jawab jabatan yang diemban. Karena alasan takut mati yang disampaikan GM Pertamina EP dinilai tidak menunjukkan tanggung jawab dari Pertamina. Seperti adanya kecelakaan kerja yang menyebabkan salah satu penambang meninggal dunia.

“Menurut saya, kalau matinya di sumur tua, ya tanggung jawab Pertamina,” tandasnya.

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro itu juga menyikapi laporan adanya penjarahan yang disampaikan Pertamina EP Asset IV. Hal itu menurut Moeljono menjadi tanda tanya besar, karena sebenarnya Perhutani telah mengajukan rekomendasi kepada pihak-pihak yang mengelola tambang baik Pertamina, KUD, KSO.

Baca Juga :   Nilai Kesejahteraan Buruh Migas Masih Rendah

“Kalau dikatakan penjarahan, secara tegas di PP 34 tahun 2005, tanggung jawab ada di Pertamina,” tandasnya.

‪Moelyono menyatakan, tidak ingin jika rakyatnya dijadikan kambing hitam. Bahwa mereka dikatakan melanggar aturan, menjarah,dan merusak ligkungan. “Kami tidak terima,” ujarnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *