SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Petani padi di kabupaten Lamongan, Jawa Timur, bisa bernafas lega karena mereka dapat menikmati kenaikan harga jual gabah kering giling (HGKG) di pasaran mencapai Rp4.500-4800 per kilogram (Kg).
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, Aris Setiadi melalui Kabag Humas dan Infokom, Sugeng Widodo, harga Gabah Kering Giling berkisar Rp4.000 perkilogram. Sedangkan harga Gabah Kering Sawah yang biasanya Rp3.300 perkilogram, kini melonjak menjadi Rp3.700 perkilogram.
Sugeng mengungkapkan, sesuai instruksi Bupati Fadeli, produktivitas padi agar terus ditingkatkan. Karena tahun ini sudah disiapkan anggaran sebesar Rp1,810 miliar untuk pembangunan pintu air di 7 titik. Harapannya, jaringan irigasi akan semakin baik, sehingga kebutuhan air petani akan semakin tercukupi.
Di antaranya pembangunan Dam Pintu Air Desa Tambakboyo/Tikung, Pembangunan Pintu Air Kali Mengkuli Keurahan. Sukorejo/Lamongan, Pembangunan Dam Pintu Air Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, dan Pembangunan Dam Baturono Desa Baturono, Kecamatan Sukodadi. Juga untuk Pembangunan Pintu air Desa Maduran, Kecamatan Maduran, Pembangunan Pintu air Waduk Lopang, Pembangunan Dam Jatipayak, Kecamatan Modo dan Pembangunan Dam Desa Sambopinggir, Kecamatan Karangbinangun.
Di Kabupaten Lamongan, terdapat 54 jaringan irigasi dengan total panjang saluran mencapai 1.442.483 meter (m). Terdiri dari 69.612 m saluran primer, 398.939 m saluran sekunder dan 973.932 saluran tersier dan 13.325 saluran suplesi.
Saat musim panen, petani mengeluhkan harga penjualan gabah yang terus merosot. Di tingkat bawah harga gabah basah hanya Rp 3600/kilogram. Harga tersebut masih belum memberikan keuntungan jika dikalkulasi dengan biaya tanam, obat, pupuk dan perawatan.
“Idealnya harga gabah Rp4000 perkilogram. Tapi para bakul hanya berani membeli Rp3600-Rp3700 perkilogram,” kata salah seorang petani asal Desa Keyongan, Kecamatan Babat, Dullah.
Salah satu tengkulak gabah yang biasa membeli hasil panen petani, Tolib, mengaku, harga gabah memang anjlok karena panen kali ini bertepatan dengan musim penghujan. “Bakul kesulitan untuk menjemur gabah hasil kulakkan dari petani karena setiap hari masih hujan. Jadi harga gabah anjlok, “ ujarnya (tok)