SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Mendekati musim panen raya beberapa pekan depan, sejumlah petani di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, justru merasa cemas. Mereka khawatir harga gabah mengalami penurunan.
Hal itu seperti dirasakan Suyitno, salah satu petani dari Desa kalangan, Kecamatan Tunjungan. Dia mengatakan, dengan panen raya yang terjadi hampir serentak seringkali membuat stok di pasaran menjadi berlimpah dan menjadikan harga turun. Meskipun hasil panen ada tanda-tanda ada peningkatan.
“Kalau melihat tanaman padi mungkin ada peningkatan hasil panen,†katanya. Dia mengeluhkan, melimpahnya hasil penen  tak diimbangi dengan harga di pasaran.
Hal yang sama juga dirasakan Musyafa, petani asal Desa Kunduran, Kecamatan Kunduran. Menurutnya, penurunan harga gabah dimungkinkan karena saat ini hampir seluruh Kecamatan yang ada di Blora sudah mulai panen, sehingga harga mengalami penurunan.
“Harga gabah tertinggi baru Rp 4-5 ribu per kilogramnya di tingkat petani. Tapi sekarang bturun menjadi Rp. 2.800 dan turunnya secara perlahan,†ujar Musyafa .
Harga tersebut, lanjut dia, bisa berbeda di tempat lain, bahkan di kecamatan Ngawen harganya masih di angka Rp 3.200. “Kondisi ini membuat kami para petani khawatir. Meskpun panen meningkat,  jika harga turun terus jelas akan rugi ,†tandasnya.
Dengan harga tersebut, praktis harga di bawah harga pokok yang ditentukan oleh pemerintah Rp3.300 perkilogramnya. Padahal saat ini masih berlangsung panen raya di beberapa wilayah. Hal ini, bisa mengakibatkan harga akan terus menurun.
Meskipun harga turun, sejumlah petani lebih memilih menjual semua hasil panennya kepada tengkulak yang membeli langsung di sawah saat penen.
Musyafa berharap agar harga gabah jangan sampai turun lagi. Karena akan semakin merugikan petani. “Karena musim panen masih berlangsung tentunya kuatir jika harga akan terus merosot lagi,†katanya.(ams)